Bogor, Bimas Islam -- Direktur Eksekutif Yayasan Inklusif Muhammad Subhi Azhari mengatakan, menurut hasil penelitian yang dilakukannya, terdapat sebelas akar masalah yang berpotensi memicu konflik sosial keagamaan di Indonesia.
Hal itu ia katakan saat menjadi narasumber pada Focus Group Discussion (FGD) Format Tindak Lanjut Penanganan Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan di Bogor, Jawa barat, Senin (13/3/23).
Sebelas potensi berbahaya tersebut menurutnya adalah perbedaan aliran paham dan mazhab, perbedaan ritual, tempat ibadah, dakwah, hari besar keagamaan, organisasi kemasyarakatan, pemilihan pemimpin dalam organisasi keagamaan, perebutan aset ekonomi dan politik, paham keagamaan ekstrem, perbedaan tafsir atas regulasi, dan bantuan keagamaan.
“Perbedaan mazhab seperti Maliki, Syafi’i, Hambali, dan Hanafi di Indonesia tetap diterima sebagai rujukan mengamalkan ajaran Islam. Di luar keempat mazhab itu sering menimbulkan konflik,” jelasnya.
Kemudian perbedaan ritual, seperti salat sambil bersiul, imbuhnya, pernah menyebabkan konflik bahkan kekerasan.
“Selanjutnya perbedaan tempat ibadah yang dikelola kelompok keagamaan tertentu, misalnya yang terjadi di NTB ada kelompok salafi mendirikan rumah ibadah namun ditolak masyarakat setempat,” paparnya.
Pada acara yang digelar Subdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik (BPKI-PK) Kemenag itu, Subhi menjelaskan bahwa dakwah yang mengandung ujaran kebencian sangat berpotensi menjadi sumber konflik.
“Perebutan aset ekonomi dan politik yang berkaitan dengan keagamaan, hingga perbedaan tafsir atas regulasi juga menjadi satu temuan kami, misalnya ada regulasi yang ditetapkan negara namun ditafsirkan berbeda oleh masyarakat tentu akan memicu konflik,” paparnya.
Menurutnya, sebelas potensi itu akan semakin berbahaya jika dipicu oleh penegakan hukum yang lemah, provokasi atau kekerasan, atau kohesi sosial yang rapuh.
“Setelah memetakan dan mengurai dari akar masalah konflik yang terjadi di Indonesia, maka langkah rekonsiliasi sangat diperlukan untuk meminimalkan konflik agar tidak semakin meluas,” pungkasnya.
An/Mr



