Jakarta, Bimas Islam— Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Muhammad Ali Ramdhani, menegaskan pentingnya memperkuat peran agama sebagai penyatu di tengah masyarakat, bukan sebagai pemisah. Ia mengatakan, agama seharusnya membangun perilaku yang lebih baik dan mengantarkan manusia pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.
"Agama pada dasarnya adalah untuk menyatukan manusia. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, ia dapat menjadi sumber perpecahan," ujar Ali dalam Dialog Nasional Keagamaan dan Kebangsaan dengan tema Pengarusutamaan Moderasi Beragama yang berlangsung di Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Ali menjelaskan, interpretasi agama yang salah dapat memicu perpecahan di antara umat manusia, meskipun agama sebenarnya mengandung nilai-nilai cinta kasih dan kedamaian. Ia menekankan, agama memiliki dua dimensi dalam perannya di masyarakat: satu sisi dapat menyatukan banyak orang dari berbagai belahan dunia, tetapi di sisi lain, dapat menjadi alat pemecah jika disalahgunakan atau diinterpretasikan secara sempit.
"Setiap agama pada dasarnya mengajarkan cinta dan kedamaian. Islam, misalnya, berasal dari kata 'salam' yang berarti kesejahteraan, kedamaian, dan karunia," jelas Ali.
Ali menyoroti pentingnya moderasi beragama sebagai jalan tengah untuk mencegah perpecahan. "Moderasi beragama adalah upaya untuk mengembalikan agama pada nilai-nilai esensialnya, yaitu kedamaian dan kasih sayang," tegasnya.
Ali mengungkapkan, moderasi beragama bukanlah bentuk pendangkalan ajaran agama, melainkan penggalian nilai-nilai utama yang justru merupakan inti dari ajaran agama itu sendiri. Menurutnya, moderasi beragama adalah rekonstruksi nilai asli agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menekankan pentingnya memahami toleransi secara proporsional. "Toleransi bukan berarti kita membiarkan segala sesuatu tanpa batas. Toleransi harus ditempatkan pada porsi yang tepat agar tidak menimbulkan ketegangan di antara umat beragama," ujarnya.
Ali mengungkapkan tantangan dalam mengimplementasikan moderasi beragama, seperti perdebatan tentang penggunaan qunut dalam salat atau perbedaan penanggalan puasa yang sering menjadi sumber perselisihan. "Masih banyak konflik antarumat beragama yang dipicu oleh perbedaan kecil, seperti tata cara ibadah," ungkapnya.
Sebagai penutup, Ali mengajak seluruh umat beragama untuk melakukan refleksi dan mengambil tindakan nyata dalam memperkuat peran agama sebagai perekat sosial. "Kita harus bersama-sama membangun kesadaran bahwa agama adalah anugerah yang dapat menyatukan kita, bukan memisahkan. Mari kita gunakan agama sebagai jalan untuk mencapai kedamaian sejati," pungkasnya.
Fn/Mr



