Jakarta, Bimas Islam -- Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag), Muhammad Ali Ramdhani, menjelaskan empat jenis kecerdasan yang harus dimiliki seorang penceramah, yaitu kecerdasan intelektual, emosional, fisik, dan spiritual. Hal itu disampaikannya saat membuka Bimbingan Teknis Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam Tingkat Pusat dan MABIMS 2024 yang digelar Ditjen Bimas Islam Kemenag di Jakarta, Senin (7/10/2024).
Kecerdasan pertama adalah kecerdasan intelektual, yaitu kemampuan memahami hubungan sebab-akibat. Ramdhani menjelaskan, kecerdasan ini tidak hanya terkait dengan kemampuan menghafal atau berhitung cepat, melainkan juga tentang cara seseorang mempertimbangkan setiap tindakan dan konsekuensinya.
“Penceramah harus tahu cara bertindak dan mempertimbangkan konsekuensinya. Ini yang disebut menautkan sebab-akibat,” kata Ramdhani.
Kedua, kecerdasan emosional yang memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan bijaksana. Ramdhani menegaskan bahwa 80% kesuksesan ditentukan oleh kemampuan mengelola emosi, sementara kecerdasan intelektual hanya berkontribusi sebesar 20%.
“Saya pernah dinasihati oleh ibu saya, 'jangan pernah membuat keputusan saat marah, karena setengah kecerdasanmu hilang. Jangan menjanjikan sesuatu saat bahagia, karena janjimu kerap melebihi realisasinya'," ujar Ramdhani.
Ketiga, kecerdasan fisik, yang menurutnya penting untuk menjaga kesehatan, terutama bagi penceramah. Kesehatan fisik yang baik, katanya, berperan dalam menjaga kebijaksanaan dan stabilitas emosi. Ia mengingatkan bahwa seseorang yang sakit akan kehilangan sebagian kebijaksanaannya.
“Wasiat orang yang sedang sakit atau sekarat bisa diabaikan karena kebijaksanaannya berkurang. Pastikan kita sehat agar bisa bertindak dengan cerdas, emosional yang stabil, dan bijaksana,” pesannya.
Terakhir adalah kecerdasan spiritual, yaitu kemampuan memberi makna ibadah dalam setiap tindakan dan aktivitas. Ali menyebut, kecerdasan ini membantu penceramah menjadi pribadi yang fitrah dan utuh.
“Empat kecerdasan inilah yang harus dimiliki setiap penceramah agar menjadi pemandu yang intelektual, cerdas, dan bijaksana,” tegasnya.
Acara Bimbingan Teknis ini digelar melalui kerja sama dengan berbagai lembaga, seperti Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), serta mengundang 80 penceramah dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura.
Wcp/Mr



