Wajo, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) mengungkapkan pentingnya spirit Deklarasi Istiqlal dalam menghadapi krisis kemanusiaan dan pelestarian lingkungan. Hal itu disampaikan Kasubdit Kemasjidan, Akmal Salim Ruhana, dalam Seminar Internasional bertajuk “Curriculum of Love and Eco-Theology as The Basis for The Istiqlal Declaration Implementation Movement” di Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Senin (3/2/2025).
Akmal memaparkan dua isu utama dalam Deklarasi Istiqlal. Pertama, dehumanisasi atau krisis kemanusiaan, yakni konflik dan kekerasan yang kerap mengatasnamakan agama. “Hal terpenting adalah bagaimana para tokoh agama dapat menangani isu dehumanisasi ini,” ujarnya.
Kedua, kerusakan lingkungan. Menurutnya, meningkatnya bencana alam yang terjadi secara tidak wajar menandakan kondisi lingkungan yang semakin memburuk. Ia berharap, umat beragama dapat mendalami dan mengeksplorasi ajaran agama serta budaya keagamaannya untuk memperkuat peran agama dalam menghadapi krisis kemanusiaan dan perubahan iklim.
“Beliau (Nasaruddin Umar, Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal) menegaskan bahwa spirit Deklarasi Istiqlal harus diperkuat dan diimplementasikan,” tambah Akmal.
Sejumlah langkah telah dilakukan Kemenag, seperti penandatanganan Gerakan Bersama Tokoh Agama untuk Lingkungan, penanaman mangrove, pelaksanaan sekolah alam, seminar nasional, webinar, serta sosialisasi di berbagai kampus. Akmal berharap, Pondok Pesantren As’adiyah juga dapat berkontribusi dalam mendukung deklarasi ini.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Pondok Pesantren As’adiyah, Kamaluddin Abunawas menyampaikan, As’adiyah mengedepankan nilai cinta kasih dan toleransi.
“As’adiyah tidak pernah mempermasalahkan perbedaan agama, suku, dan budaya. Bahkan, dahulu acara penting di pesantren ini sering dihadiri oleh masyarakat Tionghoa,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pesantren ini tidak menggunakan referensi keagamaan yang berpaham keras. “As’adiyah akan tetap berada dalam khittah pendirinya,” pungkas Kamaluddin Abunawas.
Seminar internasional itu mengundang lebih dari 200 tokoh internasional dan nasional. Kegiatan itu juga diikuti lebih dari 1.000 peserta secara virtual yang disiarkan melalui kanal YouTube As’adiyah.
Wcp/Mr



