Wajo, Bimas Islam -- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengulas konsep “Kurikulum Cinta” sebagai landasan dalam menghadapi krisis kemanusiaan dalam Seminar Internasional bertajuk “Curriculum of Love and Eco-Theology as The Basis for The Istiqlal Declaration Implementation Movement". Kegiatan itu dihelat di Universitas Islam As’adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Selasa (4/2/2025).
Menag menjelaskan, konsep Kurikulum Cinta diusung sebagai fondasi hidup bersama dalam keberagaman. “Saya memilih diksi ini untuk menjadikannya seperangkat sistem yang dapat menciptakan harmoni, baik dalam kehidupan internal agama maupun antarumat beragama,” ujar Menag.
Dalam kehidupan sosial, imbuhnya, Kurikulum Cinta dapat diterapkan melalui berbagai program yang memperkuat solidaritas antarumat beragama. Menag mencontohkan dialog lintas iman, aksi sosial bersama, dan kampanye perdamaian sebagai langkah strategis untuk menghidupkan nilai-nilai cinta. Menurutnya, upaya itu tidak hanya akan memperkuat kehidupan sosial, tetapi juga menjadi respons terhadap berbagai tantangan kemanusiaan.
“Karena dalam ajaran agama, cinta adalah inti dari segala tindakan,” ungkapnya.
Menag berharap, nilai-nilai cinta dapat diterapkan untuk membangun kehidupan sosial yang damai, toleran, dan saling menghargai. Tidak hanya itu, ia juga berharap agar lembaga pendidikan formal mesti menjadi wadah untuk menanamkan nilai-nilai tersebut.
“Nilai ini mesti masuk dalam sistem pendidikan kita. Pendidikan tidak boleh sebatas pengajaran ritual. Kita harus menanamkan ruh moderasi dan penghormatan terhadap keragaman,” tambah Menag.
Sebelumnya, Kasubdit Kemasjidan, Akmal Salim Ruhana menyampaikan pentingnya peran tokoh agama dalam menghadapi tantangan global yang menggerus nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, fenomena krisis kemanusiaan ini menjadi ancaman besar yang membutuhkan pendekatan berbasis kasih sayang dan kemanusiaan.
“Hal terpenting adalah bagaimana para tokoh agama dapat menangani isu dehumanisasi ini,” ucapnya, Senin (3/2).
Akmal mengajak warga As’adiyyin untuk terus berperan aktif, baik di tingkat lokal maupun global. Ia menilai, potensi besar dari tokoh-tokoh agama di lingkungan Pesantren As’adiyah dapat memberi solusi atas tantangan kemanusiaan.
“Dengan kehadiran tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh dan wawasan mendalam, kami meyakini, pendekatan ini bisa membangun kesadaran dan aksi nyata dalam menyelesaikan persoalan global,” pungkasnya.
Seminar internasional itu mengundang lebih dari 200 tokoh internasional dan nasional. Kegiatan itu diikuti lebih dari 1.000 peserta secara virtual yang disiarkan melalui kanal YouTube As’adiyah Channel.
Wcp/Mr



