Jakarta, Bimas Islam - - Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Nanik Sri Prihatini mengatakan, seni dan budaya sejak dulu menjadi media dalam mendakwahkan agama di tengah masyarakat. Nanik mencontohkan, wali songo saat menyebarkan ajaran agama Islam melalui seni.
"Seni budaya bisa menjadi jembatan di tengah keragaman dan perbedaan, karena seni memiliki karakter membuka ruang toleransi untuk membangun kebersamaan dan keselarasan," kata Nanik dalam Sarasehan Festival Moderasi Berbasis Seni Keagamaan di Pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta, Minggu (05/12).
Nanik menilai para seniman memainkan peran personal sekaligus juga peran kolektif dalam setiap atraksi seni. Masing-masing penampil yang membawakan karya bersama harus bertoleransi dan berkolaborasi sehingga tercipta karya seni yang indah.
Misalnya, tambahnya, dalam paduan suara, masing-masing vokalis memiliki karakter suara sendiri, yakni sopran, alto, tenor, dan bass. Namun, katanya, ketika jenis suara itu dipadukan, maka masing-masing penyanyi dalam kelompok paduan suara itu harus bisa menekan ego untuk mewujudkan keselarasan.
"Begitulah moderasi beragama, toleransi, saling menghormati, dan saling bekerja sama merupakan fondasi untuk tercipta kerukunan dalam masyarakat," jelasnya.
Acara sarasehan dihadiri oleh Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Al-Makin, dan cendekiawan Islam Ulil Absar Abdalla.
Festival Moderasi Berbasis Seni Keagamaan yang dilaksanakan di Pelataran Candi Prambanan, Yogyakarta itu diikuti oleh unit eselon 1 di Kemenag. Salah satunya Ditjen Bimas Islam ikut memeriahkannya.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag: Sulsel Berpeluang Jadi Pusat Pengembangan Ekonomi Syariah di Wilayah Timur Indonesia
Makassar, Bimas Islam — Sulawesi Selatan berpeluang menjadi pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di wilayah timur Indonesia. Potensi tersebut…



