"Orang bijak mengatakan sejarah sebagai pedoman untuk membangun masa depan. Sejarah kerap berulang, meski pelakunya yang berbeda,” katanya saat dihubungi tim pemberitaan bimasislam, Jumat (28/01).
Fuad mengatakan, mempelajari sejarah tidak hanya menghafal peristiwa dan tokoh, tetapi memiliki daya analisa yang lebih luas dalam memahami fenomena yang terjadi di masyarakat.
“Mempelajari sejarah memungkinkan manusia zaman sekarang mengetahui kesalahan-kesalahan manusia di masa lalu atau mengetahui kunci keberhasilan para pendahulu,” ujarnya.
Selain itu, Fuad mengingatkan dalam Al-Qur’an ada surat Al-Qasas yang artinya kisah-kisah. Artinya, lanjut Fuad, Al-Qur’an mengajak umat Islam tidak buta terhadap sejarah. Baik itu sejarah bangsanya, dunia, peradaban, ilmu pengetahuan, kejayaan, dan kejatuhan suatu bangsa.
"Banyak fakta dalam sejarah yang relevan sehingga perlu dipahami sebagai ingatan kolektif bangsa dalam rangka merawat NKRI. Di tengah geopolitik dunia yang mengalami perubahan dinamis, bangsa Indonesia harus tetap jaya," ungkap Fuad.
Ia mengajak generasi millenial agar memiliki kesadaran sejarah dan membina karakter sebagai bangsa yang berkepribadian agak tidak hanyut ditelan arus globalisasi.
"Kejayaan dan keruntuhan kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Minangkabau, Mataram dan beberapa kesultanan Islam di Nusantara zaman pra Kolonial, dan pasang surut perjuangan bangsa selama dijajah bangsa asing dengan politiknya; devide et impera, sampai tercapai kemerdekaan serta pengalaman bernegara dengan berbagai gelombang politik yang pernah terjadi, memberi banyak pelajaran. Betapa mahalnya persatuan dan bahaya berpecah-belah bagi bangsa yang majemuk ini. Mari menjadi murid sejarah yang cerdas,” tutupnya.
(Tommy)



