Jakarta, Bimas Islam --- Sekretaris Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar mengingatkan peristiwa kelam tragedi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun, 18 September 1948 dan 30 September 1965 di ibukota Jakarta adalah contoh tindakan amoral yang pernah terjadi di Indonesia. Untuk itu bimbingan agama diperlukan untuk membangun moral dan cara berpikir yang baik dari manusia.
"Membangun dan memperbaiki gedung yang rusak lebih mudah daripada memperbaiki moral masyarakat yang rusak. Maka, kesalehan beragama diharapkan akan membentengi manusia dari amoralisme," terang Fuad kepada tim pemberitaan Bimas Islam, Sabtu (18/9/2021).
Fuad menyatakan pengkhianatan komunis harus dijadikan pelajaran dan peringatan agar tidak terulang untuk selamanya di republik ini.
Komunisme dan Pancasila, ucap Fuad, tidak dapat disandingkan dan dipersatukan, seperti halnya agama dan komunisme adalah bertentangan. Bagi bangsa Indonesia, agama justru merupakan benteng Pancasila terhadap rongrongan Komunisme yang telah teruji sepanjang sejarah.
"Kesetiaan pada Pancasila harus dibuktikan dalam tindakan dan kebijakan. Lima Sila yang membentuk susunan Pancasila sebagai dasar falsafah negara Republik Indonesia dan ideologi pemersatu bangsa haruslah diamalkan secara murni dan konsekuen sehingga menjadi karakter bernegara," lanjutnya.
Fuad menegaskan, jika ada yang mempertentangkan agama dengan Pancasila, hal itu disebabkan wawasan agama yang kurang luas atau kurang utuhnya pemahaman tentang Pancasila.
"Pancasila bukan untuk meminggirkan dan menggantikan kedudukan agama yang dijunjung tinggi dalam perikehidupan bangsa dan masyarakat kita," tutupnya.
(Boy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Tuntaskan Persoalan Ruislag Tanah Wakaf Terdampak Tol dan Normalisasi Sungai di Semarang
Semarang, Bimas Islam — Kementerian Agama membenahi persoalan tukar-menukar (ruislag) tanah wakaf yang terdampak pembangunan Jalan Tol Semarang–Batang dan…



