Jakarta, Bimas Islam --- Sekretaris Ditjen (Sesditjen) Bimas Islam, M. Fuad Nasar mengatakan, bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya dengan wafatnya Fahmi Idris. Semasa hidupnya almarhum dikenal sebagai tokoh nasional Angkatan 66, politikus dan pengusaha yang berjiwa sosial. Almarhum Fahmi Idris telah berkontribusi dalam pembangunan nasional dan punya perhatian besar terhadap pembangunan daerah asalnya, Sumatera Barat.
"Fahmi Idris bergabung dalam Gebu Minang, Forum Minang Maimbau (FMM) dan organisasi lainnya. Ia seorang tokoh bangsa yang bisa menempatkan kepentingan nasional dan kepentingan daerah secara benar dan proporsional," lanjut Fuad.
“Sebagai pengusaha dan pebisnis berkarakter, Fahmi Idris meninggalkan kenangan baik dan inspirasi moral bagi keluarga, sahabat dan koleganya," kata Fuad melalui keterangan tertulis yang diterima bimasislam, Selasa (24/5).
Selain itu, Fuad mengenang, Fahmi Idris sepanjang hidupnya memiliki perhatian besar terhadap amal jariah di bidang sosial keagamaan. Fuad mengatakan, almarhum mendirikan sekolah Tahfiz Al-Qur’an Fahmi Idris/Akademi Al-Qur’an di Jalan Kenari II, Senen, bekas kediaman orangtuanya dan menyediakan beasiswa santri.
"Sesuai ajaran Islam, setiap orang atas dasar kelebihannya masing-masing dianjurkan mengisi hidupnya dengan amal saleh sebagai bekal menghadap Ilahi,” ujar Fuad yang hadir saat pemakaman jenazah almarhum.
Fuad mengingat, Fahmi Idris adalah salah satu penggemar Prof. Dr. Hamka. Fuad mengatakan, sejak masa kecil Fahmi Idris pecinta buku-buku karya Buya Hamka, pengarang, ulama terkemuka, dan Imam Besar Masjid Agung Al-Azhar Jakarta.
“Buku karangan Hamka berjudul Mutiara Hidup setebal lebih kurang 900 halaman telah dibacanya sejak masa sekolah yang dipinjamnya di perpustakaan di Jalan Raden Saleh Cikini Jakarta. Selain itu banyak buku lain karya Hamka yang dibacanya,” ujarnya.
Fuad pun mengajak generasi muda meneladani semangat Fahmi Idris dalam menuntut ilmu saat usianya tidak muda lagi. “Dalam umur yang tidak muda lagi Fahmi Idris memberi contoh menuntut ilmu tanpa mengenal usia. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktoral (S3) di Universitas Negeri Jakarta dan Universitas Padjadjaran Bandung. Pada tanggal 9 April 2022 ia dikukuhkan sebagai Profesor Kehormatan Universitas Negeri Padang (UNP),” tuturnya.
Fahmi Idris yang lahir pada 20 September 1943 meninggal pada Ahad (22/5) di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. Beliau meninggalkan seorang istri, dua orang anak dan beberapa cucu. Politikus senior Partai Golkar itu dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan.
Fahmi menjabat posisi menteri di era Presiden BJ Habibie dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di masa Habibie, Fahmi menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans). Di era pemerintahan Presiden SBY, ia dipercaya sebagai Menakertrans 2004-2005 dan Menteri Perindustrian sejak 2005-2009.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



