Fuad mengatakan, sebagai dai yang pernah memperoleh bimbingan langsung dari mantan Perdana Menteri dan pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Mohammad Natsir, banyak nilai yang bisa dipetik dari perjalanan hidup KH. Syuhada Bahri sepanjang yang diamati dan dibaca dari sumber literatur yang ada. "Beliau adalah sosok dai teladan di negara kita. Dai yang mencintai agama dan negara dengan jiwa raganya. Dai yang berjuang membesarkan dakwah, dakwah ilallah, dan dibesarkan oleh dakwah, bukan dai yang membesarkan dirinya sendiri. Dai yang tidak silau dengan materi dan popularitas" kata Fuad Nasar.
"Ustad KH. Syuhada Bahri mempraktekkan nilai-nilai yang diperoleh dari interaksinya dengan Mohammad Natsir yaitu keikhlasan, kesederhanaan, keseriusan, dan kebersamaan,” kata Sesditjen.
Fuad Nasar berharap Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menggiatkan kaderisasi ulama dan dai. "Semoga patah tumbuh hilang berganti," tutupnya.
Sementara itu, Ketua Umum DDII Pusat Dr. Adian Husaini mensitir salah satu pesan penting KH Syuhada Bahri tanggal 16 September 2020, bahwa yang selalu diingatkan Pak Natsir, sebagaimana diungkapkan Syuhada Bahri, kita harus menjaga nawaitu (niat) dalam berdakwah. Kita itu harus tahu pukul (jam) berapa sekarang, dan kita harus berbenteng di hati umat.
Sesditjen Bimas Islam sebelumnya kepada Bimas Islam mengatakan, saat KH. Syuhada Bahri memimpin DDII mencanangkan pengkaderan dai melalui tiga program utama, yaitu kader ulama, kader cendekia, dan kader mubalig. Dai yang dikader oleh Mohammad Natsir itu menguasai Fiqhud Dakwah dan mengerti medan dakwah. Ia memiliki pengalaman lapangan yang luar biasa dalam kegiatan dakwah di daerah pedalaman, membimbing umat dan melatih dai.
“Itu sejalan dengan tiga pilar dakwah yang dikembangkan Mohammad Natsir yaitu Masjid, Kampus, dan Pesantren,” tuturnya.
Sesditjen mengutip buku “Pendiri dan Pemimpin Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia” editor Lukman Hakiem, ada pesan dari KH. Syuhada yang disampaikan kepada para aktivis dakwah, yaitu agar mereka menelaah konsep dakwah. Aktivis dakwah harus memahami arti dan makna dakwah, tujuan dakwah, langkah dan materi dakwah, serta mengorganisir gerakan dakwah.
“Dakwah adalah kewajiban seluruh umat Islam yang harus dilaksanakan dengan landasan keikhlasan dan bertujuan mencari keridaan Allah SWT. Dakwah adalah suatu amal yang bersifat bimbingan, bukan paksaan, dan bukan doktrin. Semua juru dakwah harus menyamakan tujuan dakwahnya agar gerak dakwah tertuju kepada satu titik yang sama. Dakwah memiliki nilai bina’ (membangun keimanan) dan nilai difa’ (membentengi keimanan),” kenang Fuad.
Selain itu, Fuad mengutip wawancara Harian Republika dengan KH. Syuhada Bahri pada 2014 lalu, Ketua Umum DDII itu menuturkan peran Dewan Dakwah untuk Umat Islam Indonesia. Menurutnya, peran yang paling utama ialah membimbing dan mencerdaskan umat dalam memahami agama Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. "Artinya, tidak terlalu kanan dan juga tidak terlalu kiri, tetapi tengah-tengah. Kan orang-orang menilai ada Islam yang lugas, ada yang terlalu lembut, kalau kita nggak. Kita ingin memandu bahwa Islam itu mengajarkan tengah, keras lembut tergantung kondisi," kata Fuad mengutip Syuhada Bahri yang semasa hidupnya juga khatib tetap Masjid Agung Al-Azhar Jakarta Selatan.
Fuad menegaskan, semasa kepemimpinan KH. Syuhada Bahri dan atas dukungan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, DDII berhasil membangun gedung kampus STID Mohammad Natsir yang cukup representatif di Bekasi dan beberapa infrastruktur lainnya merupakan hibah dari Kerajaan Saudi Arabia.
(Tommy)



