Jakarta, Bimas Islam – Tak hanya menjaga hubungan antarmanusia, moderasi juga menjaga keseimbangan alam.
Hal itu disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal (Sesditjen) Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam), Muhammad Adib saat menyambut Audiensi Tempo Media Group di Jakarta, Selasa (27/6/2023).
“Gagasan moderasi itu sebuah keniscayaan. Bumi ini bertahan karena moderasi. Tersedianya pangan yang melimpah karena moderasi. Kalau kita melihat rumput-rumput yang hijau, rumput tersebut memberi kesejukan pada mata kita yang gersang, itu karena moderasi. Ketika malam tiba, bulan menyinari bumi, kadangkala kita bersila di bawah purnama mengunyah gumpalan asap lalu berdiskusi dengan teman sejawat, itu karena moderasi. Jadi, moderasi sejatinya menjaga keseimbangan alam agar kita mampu menikmati alam,” ucapnya.
“Moderasi itu tidak berlebihan. Sesuatu yang tidak berlebihan sejatinya adalah kesempurnaan. Kesempurnaan itu tidak kurang dan tidak berlebihan. Itu esensi moderasi,” ulas Adib.
Adib menjelaskan, kerusakan alam disebabkan ketidakmampuan memahami nilai moderasi.
“Yang paling berpotensi merusak alam hanya manusia. Karena manusia dititipkan akal untuk memahami moderasi, maka nilai moderasi harus hidup dan bergelayut dalam diri kita,” tuturnya.
“Alam semesta bergerak secara harmonis karena moderasi sejak awal sudah ada sebelum manusia mengenal peradaban,” pungkas Adib.
Wcp/Mr



