Jakarta, Bimas Islam --- Sekretaris Ditjen Bimas Islam, M. Fuad Nasar menyampaikan kehidupan beragama mengisi tempat dan kedudukan yang strategis dan terhormat di Indonesia. Hal ini terkait secara langsung dengan pembentukan moral, akhlak, dan karakter bangsa.
"Bisa dibayangkan, andaikata politik dan ekonomi dijauhkan dari nilai-nilai agama, yang akan terjadi adalah dehumanisasi dan demoralisasi yang dahsyat," ungkap Fuad dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (19/5).
Fuad mengatakan jika kehidupan berbangsa tidak diatur dengan ajaran agama, maka manusia akan mengejar kemenangan, kekuasaan, jabatan, dan meraih keuntungan dengan menghalalkan berbagai cara karena tidak menghadirkan Tuhan di dalam tindakan mereka.
"Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi di era digital tidak bisa memperbaiki mental dan moral manusia, apalagi membangunnya. Hanya agama yang bisa membangun moral manusia secara utuh dan menyeluruh," imbuhnya.
Dalam perkembangan sejarah dunia, lanjut Fuad, kehidupan bernegara sulit dipisahkan dari kehidupan beragama. Di negara yang menganut pemisahan tegas antara negara dan agama (sekularisme), selalu terdapat pengaturan atau tindakan negara yang terkait dengan urusan agama.
"Persoalan mengenai hubungan agama dan negara di Indonesia sudah final sejak 18 Agustus 1945 ketika disahkannya Undang-Undang Dasar sehari setelah Proklamasi. Tokoh-tokoh Islam sejak 1945 telah menerima Pancasila sebagai landasan falsafah negara," tutupnya.
(Boy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



