Jakarta, Bimas Islam --- Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag, M. Fuad Nasar mengajak generasi muda agar memiliki minat terhadap sastra. Fuad menilai, pengenalan sastra berkorelasi dengan pembentukan karakter bangsa. Pengenalan sastra kepada generasi muda dapat mencegah kemiskinan bahasa dan sekaligus memperluas perspektif budaya.
"Pembentukan karakter bangsa dan pembangunan manusia bisa dilakukan antara lain dengan mengenalkan generasi muda kepada literasi kesusastraan, baik sastra klasik maupun kontemporer. Dari situ kita bisa berkaca pada beragam karakter dan kualitas manusia serta pola komunikasinya,” kata Fuad saat dihubungi tim pemberitaan bimasislam, Senin (31/01).
Fuad menjelaskan, pengenalan sastra memiliki banyak manfaat, yaitu membuat jiwa tidak gersang dan meningkatkan kemampuan untuk mengartikulasikan kata-kata lebih bagus. Fuad menilai, saat ini terjadi gejala kemiskinan bahasa di ruang publik. Hate speech (ujaran kebencian) salah satu dari ekses kemiskinan bahasa dalam mengungkapkan kritik dan pikiran kritis yang mestinya bisa menggunakan bahasa yang santun dan tidak melukai perasaan pihak lain.
“Bahasa Indonesia adalah alat komunikasi lisan dan tulisan yang bernilai tinggi, namun generasi muda Indonesia di era digital jangan malah mengalami kemiskinan bahasa dan degradasi kearifan. Salah satunya akibat krisis minat baca. Bahasa sebagian pengguna media sosial yang mengabaikan keadaban adalah cerminan kualitas jiwa dalam berkomunikasi,” ujarnya.
Oleh karena itu, Fuad mengatakan, dalam merawat dan meningkatkan literasi masyarakat, Ditjen Bimas Islam antara lain memiliki program bantuan peningkatan kapasitas layanan perpustakaan di masjid dengan menyiapkan bantuan untuk 38 masjid dan program lainnya.
“Perpustakaan masjid yang mengajukan dan memenuhi syarat akan menerima bantuan untuk meningkatkan kapasitas perpustakaan masjid,” tuturnya.
Selain itu, Fuad mendorong guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah mengenalkan sastrawan-sastrawan besar Islam di masa lalu, baik di Indonesia maupun dunia. Fuad mengatakan, sastra merupakan alat perjuangan bangsa dan unsur peradaban.
“Sebagai contoh, karya-karya sastra terbitan Balai Pustaka di era pra kemerdekaan sangat kaya dan inspiratif dengan pesan pembebasan bangsa dari belenggu penjajahan dan penyadaran akan harkat martabat rakyat Indonesia yang tidak seyogianya direndahkan dengan feodalisme, adat dan kungkungan tradisi konservatif,” pungkasnya.
(Tommy)
(Keterangan Foto: Di Lokasi Pusat Dokumentasi Sastra H.B.Jassin - TIM Cikini Jakarta.)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



