Jakarta, Bimas Islam – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Abu Rokhmad, mengungkapkan pentingnya peran seni dan budaya dalam berdakwah. Menurutnya, seni budaya memiliki daya kuat untuk menyampaikan pesan agama secara lebih hidup, menyentuh rasa, dan mudah diterima masyarakat.
“Dakwah harus menyatu dengan kebudayaan. Kalau tidak, dakwah akan kering. Kebudayaan adalah ekspresi budi pekerti dan akhlak yang disampaikan kepada publik melalui seni maupun tradisi,” ujarnya saat membuka kegiatan Silaturahmi Nasional Pamong Budaya di Jakarta, Sabtu malam (23/8/2025).
Ia menambahkan, seni dan budaya tidak cukup hanya menjadi bahan pembicaraan, tetapi perlu dihayati dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu termasuk dalam lingkup terkecil, yaitu keluarga.
“Budaya rumah tangga yang paling tinggi itu ketika suami-istri bisa menerima kebiasaan buruk pasangannya tanpa marah, bahkan bisa ditertawakan bersama. Itu seni dalam kehidupan,” jelas Abu.
Selain itu, ia juga mengungkapkan pentingnya peran strategis jabatan fungsional pamong budaya. Meski belum banyak dikenal masyarakat, pamong budaya dinilai memiliki kontribusi besar dalam merawat seni dan budaya bangsa, sekaligus menjadi mitra penting dalam penguatan moderasi beragama.
“Kebudayaan adalah rumah besar yang memayungi banyak ekspresi. Karena itu pamong budaya harus mampu menempatkan seni dan budaya sebagai sarana dakwah yang mengajak pada kebaikan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, dalam laporannya menyebut, Silaturahmi Nasional kali ini diikuti sekitar 70 peserta dari tiga unsur. Terdiri dari pamong budaya sebagai jabatan fungsional di Kementerian Agama, ketua tim seni budaya Islam dari berbagai daerah, serta jajaran Subdit Seni Budaya dan Siaran Keagamaan Islam.
“Forum ini menjadi tempat berkumpul dan pertukaran gagasan, serta merumuskan agenda bersama dalam memajukan kebudayaan sesuai amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan,” kata Zayadi.
Menurutnya, agenda kedua yang dibahas adalah pengembangan karier jabatan fungsional pamong budaya. Profesi ini diharapkan tidak berhenti pada level dasar, tetapi terus berkembang hingga ke jenjang tertinggi.
“Profesi pamong budaya harus berkembang maksimal. Jabatan fungsional ini bukan sekadar posisi administratif, melainkan profesi keilmuan yang ke depan dapat mencapai jenjang ahli utama, setara dengan guru besar,” ungkapnya.
Selain itu, Ahmad Zayadi menekankan pentingnya dokumentasi melalui repository seni budaya Islam. Saat ini sudah terbit dua jilid buku repository yang menghimpun kekayaan seni budaya Islam, dan akan terus diperluas termasuk pada bidang arsitektur.
“Ini capaian luar biasa. Kita berharap repository ini menjadi pijakan penting dalam pengembangan profesi pamong budaya sekaligus pelestarian seni dan budaya Islam,” ujarnya.
Silaturahmi Nasional Pamong Budaya berlangsung selama tiga hari, 23–26 Agustus 2025, dengan tema “Merawat Warisan, Meneguhkan Peran: Pamong Budaya untuk Indonesia Berperadaban.” Acara juga dihadiri Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Feri Arlius, serta dimeriahkan penampilan Angklung Perempuan Indonesia.
Ba/Mr



