Jakarta, Bimas Islam --- Empat negara anggota MABIMS menyepakati 10 resolusi Khairu Ummah sebagai arah bersama untuk membangun masyarakat Islam berkeadaban. Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Kamaruddin Amin, menekankan agar seluruh kesepakatan tersebut diterjemahkan menjadi program konkret yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pesan itu disampaikan Kamaruddin saat menutup rangkaian Senior Officials Meeting (SOM) ke-50 Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) di Jakarta.
“Untuk memperkuat solidaritas dan mendorong kerja sama nyata di antara negara-negara anggota, kita berharap kerja sama yang telah terbangun tidak berhenti pada kesepakatan di atas kertas, tetapi dapat diwujudkan dalam program-program konkret yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Kamaruddin, Selasa (3/11/2026).
Sepuluh Resolusi Khairu Ummah
1. Penguatan paradigma umat terbaik (khairu ummah) dengan mendorong pengamalan konsep khairu ummah sebagai landasan peradaban yang berlandaskan maqasid syariah, moderasi beragama (wasatiyyah), toleransi, inklusif, dan tanggung jawab sosial.
2. Pengukuhan asas (fondasi) pembinaan keluarga muslim dengan memperkuat peranan strategik keluarga sebagai asas utama pembentukan akhlak dan peradaban, perlindungan jiwa dan keturunan, serta pengelolaan harta berdasarkan maqasid syariah melalui sinergi lintas negara.
3. Pengembangan pendidikan Islam yang inklusif dengan meningkatkan mutu pendidikan Islam yang besesuaian dengan zaman, mesra kanak-kanak, dan berorientasi pada pembentukan karakter, kurikulum berbasis cinta (rahmah), pemikiran kritis, serta kesiapan generasi muda menghadapi perkembangan zaman.
4. Peningkatan kapasiti tenaga keagamaan dan belia dilaksanakan melalui latihan berterusan dalam literasi digital, disusuli penerapan etika teknologi serta kecerdasan buatan (AI) yang berpusat pada manusia bagi mengutamakan kemaslahatan dan perlindungan golongan rentan.
5. Bagi menjamin integriti institusi, pedoman etika penggunaan AI dibangunkan dengan penekanan pada semakan (verifikasi) data dan kawalan manusia, khususnya untuk urusan penyelidikan agama dan penetapan hukum Islam (istinbat) oleh pihak berautoriti.
6. Penguatan profesionalisme dakwah dan pelayanan (perkhidmatan) dengan meningkatkan integritas para pendakwah, penceramah, dan pegawai agama dalam merespons dinamika ruang digital, memantapkan tadbir urus perkhidmatan keagamaan yang transparan (telus) dan dapat dipertanggungjawabkan.
7. Penguatan ekosistem halal dan keuangan sosial Islam dengan mendorong kerja sama serantau dalam pengembangan ekosistem halal, peningkatan mutu pensijilan (sertifikasi), serta optimalisasi pengelolaan zakat, wakaf, dan instrumen keuangan sosial Islam secara produktif.
8. Pengembangan zakat dan pemerkasaan asnafdengan memperkuat kerja sama serantau dalam pengelolaan zakat melalui pemprofilan penerima, penetapan batas kecukupan, serta transformasi bantuan asas kepada pembangunan keupayaan, latihan kemahiran, dan pembinaan usahawan (asnaf empowerment).
9. Pemberdayaan asnaf dan masyarakat rentan dengan mengembangkan program pemberdayaan ekonomi dan sosial bagi asnaf melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pelatihan keterampilan, dan perluasan akses ekonomi guna mencapai kemandirian yang berkelanjutan.
10. Penguatan pendidikan kolaboratif serantau dengan meningkatkan kerja sama penelitian, pertukaran akademik, dan pengembangan ilmu antaruniversiti keagamaan di kawasan MABIMS untuk menghadapi cabaran semasa.
Selain 10 resolusi, SOM MABIMS ke-50 juga menyepakati empat fokus strategis periode 2026–2030 yang dituangkan dalam Takwim Fokus Strategik bersama. Keempatnya meliputi Potensi Belia, Pendidikan dan Beragama Maslahat, Harmonisasi Sosioekonomi, serta Keharmonian Serantau.
Kamaruddin berharap hasil pertemuan menjadi pijakan untuk memperkuat kolaborasi antarnegara anggota. Setiap delegasi diharapkan menindaklanjuti kesepakatan sesuai dengan kepentingan dan kapasitas negaranya masing-masing.
“Kita juga berharap setiap delegasi dapat terus melaksanakan hasil-hasil pertemuan ini sesuai dengan kepentingan dan kapasitas masing-masing negara, sehingga manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat di setiap negara anggota,” lanjutnya.
Dalam pertemuan tersebut, negara anggota juga menyepakati penyempurnaan Panduan Keanggotaan MABIMS, termasuk pengaturan mekanisme keterlibatan negara pemerhati dan negara bersekutu. Draf panduan ditargetkan rampung sebelum SOM ke-51 dan Pertemuan MABIMS ke-22 di Brunei Darussalam pada 2027.
SOM MABIMS ke-50 berlangsung pada 1–3 November 2026 di Jakarta. Pertemuan ini diikuti pejabat tinggi bidang keagamaan dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama regional dalam pembangunan masyarakat Islam berkeadaban.
Kementerian Hal Ehwal Ugama, Awang Haji Shamshol bin Haji Omar; delegasi Malaysia dipimpin Timbalan Ketua Pengarah Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Muhyidin bin Aziz; serta delegasi Singapura dipimpin Ketua Eksekutif Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS), Kadir Maideen bin Mohamed.
Turut membersamai Sekjen sebagai anggota delegasi dari Indonesia, Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Luar Negeri (HKLN), Imam Syaukani; Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Ahmad Zayadi; Kepala Biro Umum, Aceng Abdul Aziz; Kepala Biro Perencanaan, Kastolan; Direktur Penerangan Agama Islam, Muchlis Muhammad Hanafi; dan Direktur Kurikulum dan Kesiswaan Madrasah, Nyayu Khodijah.
(Kemenag.go.id)
Kontributor & Unit Kerja
Klik kontributor atau unit kerja untuk melihat seluruh berita terkait.
Reporter
Bimas Islam
Peliputan & Penulisan NaskahLihat liputan reporter Editor
Redaksi Ditjen Bimas Islam
Penyunting Naskah & KurasiLihat artikel editor Fotografer
Dokumentasi Humas Bimas Islam
Dokumentasi Visual & FotoLihat arsip foto Unit Kerja
Direktorat Penerangan Agama Islam
PenaisLihat berita unit kerja 






