Manado, Bimas Islam– Kementerian Agama (Kemenag) secara resmi menutup program Sekolah Penyuluh dan Penghulu Aktor Resolusi Konflik (SPARK) 2024 untuk Zona E di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (13/9/2024). Zona E mencakup Provinsi Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara, serta menjadi zona terakhir yang dilaksanakan tahun ini.
Kepala Subdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik, Dedi Slamet Riyadi mengungkapkan, Kemenag akan mengundang peserta SPARK terpilih dari semua gelombang untuk mengikuti pelatihan tingkat lanjut di tingkat pusat pada awal tahun 2025. Program ini bertujuan menyiapkan calon fasilitator untuk mendukung pelatihan di daerah.
"Di awal 2025, kami akan mengundang peserta SPARK terpilih untuk menjadi calon fasilitator dalam program Training of Trainer tingkat pusat. Ini kesempatan bagi mereka untuk mengikuti pelatihan tingkat lanjut," jelas Dedi.
Ia menambahkan, program Training of Trainer akan membentuk struktur penanganan konflik sosial berbasis agama yang terkoordinasi dari pusat hingga daerah. "Tujuannya adalah memperbanyak agen resolusi konflik dan memperkuat struktur pencegahan konflik di seluruh wilayah," ujar Dedi.
Menurutnya, yang terpenting dari pelatihan SPARK adalah penerapan langsung materi yang telah diajarkan. Dedi berharap, peserta SPARK bisa menjadi pihak pertama yang merespons jika terjadi konflik sosial berdimensi keagamaan di lapangan.
"Kami berharap peserta terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan di daerah masing-masing untuk mencegah konflik. Mereka diharapkan menjadi The First Responders," tegas Dedi.
Pelaksanaan SPARK di Zona E berbeda dari zona sebelumnya karena melibatkan peserta dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Para peserta dari kalangan aparat ini dinilai aktif dan memberi perspektif baru dalam pelatihan.
Diketahui, sejak 2022 hingga 2024, Kemenag telah melatih tujuh angkatan penyuluh dan penghulu dengan total peserta sebanyak 350 orang.
Ba/Mr



