Jakarta, Bimas Islam --- Staf Khusus Menteri Agama Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik, Manajemen Reformasi Birokrasi dan Juru Bicara, Abdul Rahman memastikan program di Direktorat Penerangan Agama Islam (Penais) harus tepat sasaran.
Hal ini disampaikan pada Rapat Koordinasi Direktorat Penerangan Agama Islam 2022 di Jakarta, Selasa (29/3/2022).
Ia mencontohkan program bantuan kepada majelis taklim agar tidak hanya diberikan dalam bentuk uang, melainkan bisa dalam bentuk barang untuk pengembangan dakwah. Misalnya, pemberian peralatan medsos sebagai sarana untuk perluasan dakwah majelis taklim.
“Era digital saat ini, tentu kebutuhan dakwah Majelis Taklim juga berbeda. Jadi Kenapa tidak dialokasikan saja untuk peralatan medsos dan melatih tim penceramah, agar mereka mampu membuat video siaran,” katanya.
Hal ini, menurutnya, sangat penting mengingat anak-anak muda, keluarga, dan masyarakat secara umum sering mendapatkan informasi dan pengetahuan agama dari sumber internet yang didominasi pemahaman tidak moderat.
"Hal itu juga bisa dipastikan merusak kondisi kebangsaan Indonesia yang sangat baik," jelasnya.
Kreativitas itu juga perlu diterapkan dalam program dan kegiatan lainnya agar dapat menarik banyak minat orang. Misalnya, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang selama ini hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang memiliki minat terhadap hal tersebut.
Ia menegaskan perlu mencari cara agar MTQ dan siaran keagamaan lainnya dapat dinikmati oleh masyarakat. “Kita harus cari cara agar MTQ dan siaran keagamaan bisa relevan dan dinikmati generasi milenial dan generasi Z,” pungkasnya.
(Anty)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Ini Langkah Kemenag Jadikan Dana Sosial Keagamaan Instrumen Strategis Pengentasan Kemiskinan
Bandung, Bimas Islam — Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya…



