Surabaya, Bimas Islam — Staf Khusus Menteri Agama, Ismail Cawidu, mengatakan, keberhasilan penyuluh agama tidak hanya diukur dari banyaknya program atau kegiatan, tetapi dari sejauh mana umat semakin dekat dengan ajaran agamanya. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Pembinaan, Evaluasi Kinerja, dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama Islam di Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur, Senin (14/4/2025).
“Semakin dekat pemeluk agama dengan ajaran agamanya, semakin damailah dunia. Mau Islam, Kristen, Hindu, Buddha, semua agama mengajarkan kedamaian. Maka indikator keberhasilan penyuluh itu adalah kedekatan umat dengan nilai-nilai ajaran agama,” ujarnya dalam sesi dialog.
Dalam paparannya, Ismail juga menekankan pentingnya pendekatan keagamaan dalam menyampaikan kebijakan dan isu sosial. Ia mencontohkan keberhasilan program Keluarga Berencana yang meningkat ketika disampaikan melalui pendekatan agama.
“Penyuluh itu garda terdepan. Kalau pakai bahasa pemerintah saja, masyarakat belum tentu dengar. Tapi kalau penyuluh bicara dengan bahasa agama, itu sampai ke hati,” ungkapnya.
Dosen komunikasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menilai, peran penyuluh kini semakin strategis, tidak hanya dalam dakwah dan bimbingan keagamaan, tetapi juga sebagai jembatan nilai-nilai agama dalam pembangunan nasional.
Ia juga mendorong para penyuluh untuk membangun narasi cinta dan persamaan antarumat beragama. “Ajarkan persamaan, jangan ajarkan perbedaan. Mencari titik persamaan jauh lebih mudah dan menyejukkan. Itulah pesan dari Kurikulum Cinta,” jelasnya.
Ismail mengingatkan bahwa peran penyuluh lebih dari sekadar penceramah, melainkan sebagai pembawa pesan kedamaian. “Kunci sukses Kemenag bukan ada di pusat. Tapi ada di lapangan, di tangan para penyuluh. Kalau umat semakin dekat dengan agama, itulah keberhasilan kita,” tegasnya.
Senada dengan hal itu, Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, menekankan pentingnya sinergi antara pusat dan daerah dalam menghadirkan penyuluh agama yang berdampak.
Menurutnya, tantangan ke depan adalah memastikan kehadiran nyata penyuluh di tengah masyarakat melalui layanan keagamaan yang akuntabel dan menjawab kebutuhan umat. “Beragama yang berkualitas adalah beragama yang berdampak—bagi diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dan penyuluh adalah aktor kunci dalam mendorong dampak itu,” ujarnya.
Zayadi menambahkan, kegiatan ini menjadi ruang penting tidak hanya untuk evaluasi kinerja, tetapi juga untuk mempererat silaturahmi, menyatukan gagasan (silatul afkar), dan memperkuat aksi nyata (silatul amal) di kalangan penyuluh agama Islam Jawa Timur.
Pembinaan, Evaluasi Kinerja, dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama Islam di Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur itu digelar Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan di DKI Jakarta dan Jawa Barat, dan akan dilanjutkan ke Jawa Tengah serta Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan itu diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari Penyuluh Agama Islam, perwakilan ormas keagamaan, serta pegawai Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur.
An/Mr



