Jakarta, Bimas Islam -- Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Perpusnas, Joko Santoso mengusulkan lima isu yang mesti dibahas dalam pengembangan Pusat Literasi Keagamaan Islam (PLKI) Kementerian Agama.
“Isu pertama yaitu agama, konflik, dan perdamaian. Kementerian Agama harus menyiapkan SDM untuk memberdayakan cendekiawan, mahasiswa, publik, dan tenaga profesional agar mampu mengatasi konflik berdimensi agama,” paparnya pada acara Grand Desain Pusat Literasi Keagamaan Islam di Jakarta, Rabu (9/8/23).
Isu kedua, yaitu religious literacy and the profession. Menurut Joko, Kemenag perlu berkolaborasi dengan tenaga profesional yang bekerja di sektor publik, swasta, dan nirlaba untuk memberi pemahaman lebih kepada masyarakat terkait pengaruh agama dalam kehidupan manusia modern.
“Kemudian ketiga, internships, yaitu program yang memberi kesempatan bagi peserta didik dan mahasiswa untuk terlibat dalam praktik beragama di berbagai bidang,” sambungnya.
Isu yang keempat, imbuh Joko, yaitu professional and lifelong learning. Kemenag bersama akademisi dan tokoh agama, menurutnya, perlu menggelar seminar untuk menjawab pertanyaan dan memberi solusi dari berbagai persoalan keagamaan.
“Terakhir, yaitu certificate in religion and public life. Artinya, ada sertifikat yang diberikan kepada peserta didik dan mahasiswa sebagai bentuk pengakuan atas kompetensinya agar mampu menjelajah di berbagai aspek keberagamaan,”
Sebagai informasi, pembahasan Grand Desain Pusat Literasi Keagamaan Islam melibatkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Perpusnas, Pengurus Masjid Istiqlal, Lajnah Pentashihan Al-Qur’an, dan Unit Percetakan Al-Qur’an.
An/Wcp



