Jakarta, Bimas Islam — Pendakwah muda Gus Ahmad Romzy, mengatakan, pendakwah Gen Z kini menghadapi tantangan komunikasi yang lebih luas, tak hanya dari atas mimbar, tetapi juga melalui media sosial dan ruang publik lainnya. Oleh karena itu, kemampuan public speaking menjadi keterampilan wajib yang harus dimiliki dai muda agar pesan dakwah dapat tersampaikan secara jelas, santun, dan berdampak.
“Kalau dulu kita hanya bicara di atas mimbar dengan toa, sekarang tantangan dai muda lebih kompleks. Mereka harus bisa berbicara di forum terbuka, media sosial, bahkan menjawab isu-isu sensitif dengan jernih dan santun,” ujar Gus Romzy dalam pelatihan public speaking pada kegiatan Pembibitan Calon Dai Muda Tahun 2025 yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (5/8/2025).
Menurutnya, dakwah bukan hanya soal isi, tetapi juga cara menyampaikan. “Orang tidak hanya mendengar isi ceramah, tapi merasakan cara kita menyampaikannya. Intonasi, mimik, gestur, dan irama bicara—semuanya membentuk kesan,” jelas alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Ia menekankan pentingnya tiga elemen utama dalam public speaking dakwah: kejelasan pesan, kekuatan emosi, dan koneksi dengan audiens. Tanpa itu, ceramah bisa terdengar datar dan tidak menyentuh. “Dakwah bukan hanya transfer ilmu, tapi juga seni menyampaikan,” tegasnya.
Gus Romzy juga mengingatkan pentingnya mengelola emosi saat berbicara. Menurutnya, emosi yang tepat dapat memperkuat pesan dakwah, sementara emosi yang tidak terkendali justru bisa merusaknya. “Kalau kita bicara tentang penderitaan umat, tapi wajah kita datar, itu kontradiktif. Jamaah tidak akan merasakan urgensinya,” katanya.
Dalam sesi praktik, ia memberikan simulasi pembukaan ceramah yang kuat dan menarik. “Kalimat pembuka adalah pintu masuk perhatian jamaah. Kalau gagal menarik perhatian di awal, sulit membawa mereka ke pesan inti,” jelasnya.
Ia juga mengajak para peserta untuk menyesuaikan gaya bicara dengan karakter audiens. Menurutnya, setiap tempat memiliki bahasa dan irama tersendiri. “Dai harus cerdas membaca audiens, baik saat berdakwah di kampus, pesantren, komunitas milenial, maupun di pedalaman,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa public speaking adalah investasi jangka panjang dalam dakwah. Keterampilan ini akan memperkuat kapasitas, memperluas jangkauan pesan, dan memperkokoh citra dai sebagai pembawa rahmat. “Sekarang bukan zamannya lagi dai asal bicara. Harus ada kesadaran bahwa setiap kata yang keluar bisa membangun atau meruntuhkan. Karena itu, dai harus bertanggung jawab secara etis, sosial, dan spiritual,” katanya.
Gus Romzy berharap para peserta menjadikan forum ini sebagai batu loncatan untuk menjadi teladan di tengah masyarakat. “Mulai dari masjid kecil, toa masjid bisa jadi awal suara perubahan. Tapi jangan berhenti di situ. Teruslah berkembang,” pungkasnya.
Kegiatan Pembibitan Calon Dai Muda Tahun 2025 diikuti 200 peserta terpilih dari 634 pendaftar berusia maksimal 25 tahun dari seluruh provinsi di Indonesia. Program ini menjadi bagian dari upaya Kemenag untuk meregenerasi dai muda yang moderat, adaptif, dan berdampak luas di tengah dinamika masyarakat.
An/Mr



