Jakarta, Bimas Islam -- Tantangan keluarga semakin meluas dan kompleks. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi terpadu untuk memperkuat ketahanan keluarga di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Woro Srihastuti Sulistyaningrum, saat menjadi narasumber pada kegiatan Bimbingan Teknis Fasilitator Bimbingan Perkawinan (Bimwin) Calon Pengantin (Catin) Angkatan V dan VI yang digelar Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Menurut Woro, tantangan pembangunan keluarga saat ini tidak hanya berasal dari dalam rumah tangga, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial, budaya, ekonomi, serta perkembangan teknologi. Ia menyebut keluarga sebagai titik temu dari berbagai tantangan pembangunan nasional, sehingga pendekatannya harus lintas sektor.
“Ketangguhan keluarga tidak bisa dibentuk dalam ruang hampa. Diperlukan kerja sama lintas sektor, partisipasi masyarakat, serta kebijakan yang adaptif terhadap perubahan zaman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setidaknya terdapat tiga kelompok faktor utama yang memengaruhi pembangunan keluarga: budaya dan agama, sosial ekonomi dan teknologi, serta regulasi dan kelembagaan.
Misalnya, budaya patriarki dinilai masih menyebabkan ketimpangan gender dalam peran dan fungsi keluarga, terutama terhadap perempuan.
Norma sosial yang kaku, praktik perkawinan anak, dan pemahaman agama yang tidak utuh juga disebut berkontribusi terhadap lemahnya fungsi keluarga. Selain itu, menurutnya, terjadi pergeseran nilai yang semakin individualistis dalam membangun relasi rumah tangga.
“Faktor sosial dan ekonomi seperti kemiskinan, rendahnya pendidikan, serta ketidaksiapan fisik dan mental dalam membina keluarga memperburuk keadaan. Tak hanya itu, kurangnya pemahaman soal tujuan pernikahan dan pola pengasuhan anak menjadi masalah yang makin nyata,” tambahnya.
Woro juga membahas dampak perkembangan teknologi informasi terhadap pola komunikasi dalam keluarga. Ia mengatakan, tingginya penggunaan gawai membuat komunikasi antarkeluarga semakin berkurang, yang pada akhirnya melemahkan ikatan emosional. “Bahkan, terkadang kita sendiri lebih sibuk scroll TikTok atau Instagram, sampai-sampai mengabaikan hak-hak yang seharusnya dipenuhi dalam keluarga kecil,” ungkapnya.
Di sisi lain, ia menilai pelaksanaan program pembangunan keluarga masih belum optimal. Layanan dasar, konseling, serta koordinasi antarlembaga dinilai masih perlu ditingkatkan. Sinkronisasi data dan penyesuaian regulasi juga menjadi catatan penting.
Sebagai langkah konkret, pemerintah berupaya memperluas cakupan materi Bimwin melalui nota kesepahaman enam kementerian/lembaga. Terkait itu, Kepala Subdirektorat Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menyampaikan bahwa sinergi kementerian/lembaga ini diharapkan mampu saling memperkuat eksistensi program Bimwin.
“Sasarannya jelas, yaitu calon suami istri yang telah mendaftarkan kehendak nikahnya di KUA. Hal ini juga telah diatur secara tegas dalam PMA Nomor 30 Tahun 2024 Pasal 5,” tegasnya.
Zudi menambahkan, program Bimwin bertujuan memberi pembekalan kepada calon pengantin agar memiliki kesiapan lahir dan batin dalam membina rumah tangga. Materi Bimwin tidak hanya berfokus pada aspek keagamaan, tetapi juga mencakup dimensi psikologis, kesehatan, dan pembangunan keluarga berkualitas.
Dikatakan Zudi, materi pokok bimbingan yang disampaikan di KUA meliputi upaya mempersiapkan keluarga sakinah, mengelola psikologi dan dinamika keluarga, serta memenuhi kebutuhan dan mengelola keuangan keluarga. Sementara itu, dua materi tambahan juga disampaikan oleh instansi teknis, terkait upaya menjaga kesehatan reproduksi oleh Kementerian Kesehatan melalui Puskesmas dan mempersiapkan generasi berkualitas oleh BKKBN.
“Tentu saja kami berharap program Bimwin dapat semakin efektif dalam mempersiapkan calon keluarga baru yang tangguh dan berdaya saing. Upaya ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam membangun ketahanan keluarga dan menurunkan angka perceraian di Indonesia,” tandas Zudi.
Wcp/Mr



