Simeulue, Bimas Islam --- Menjadi Penghulu dan Penyuluh Agama Islam di Kabupaten Kepulauan Simeulue, Provinsi Aceh memiliki tantangan tersendiri. Pasalnya, Simeulue berada di ujung barat Indonesia dan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
"Kami memberikan layanan hingga ke pulau kecil, seperti Pulau Teupah dan Si Umat. Memberikan layanan ke sana butuh waktu 2 jam dengan perjalanan normal tanpa angin dan badai. Jika cuaca tidak bersahabat, kami harus melakukan penundaan pelayanan," ungkap Penghulu KUA Simeulue Tengah, Amirul Hasan kepada bimasislam, Rabu (9/3/22).
Jika pun cuaca bagus, Amirul harus merogoh kantong pribadinya dalam-dalam. Pasalnya, biaya sewa speed boat cukup tinggi.
"Jika KUA punya speed boat tentu lebih murah karena hanya butuh bahan bakar, tidak perlu menyewa. Lantaran tak punya speed boat juga, kadang kami harus menginap berhari-hari karena menggunakan rakit," tambahnya.
Tak hanya sarana, Pengulu dan Penyuluh Agama Islam juga menghadapi masyarakat yang masih percaya dengan ajaran takhayul. Masyarakat masih takut menikah pada hari Rabu karena dianggap membawa sial.
"Terkait ini kami memberikan penjelasan dengan pendekatan dialog. Kita melibatkan tokoh masyarakat dan ulama. Kita sepakat untuk menjelaskan bahwa semua hari baik," terangnya.
"Masih ada juga qadhi liar. Mereka menikahkan janda yang status perceraiannya belum resmi. Ini juga kami lakukan pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat agar tindakan melanggar hukum agama dan negara tidak terjadi," pungkasnya.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



