Denpasar Selatan, Bimas Islam – Presiden Unity In Diversity, Tantowi Yahya mengatakan, semangat Tri Hita Karana sejalan dengan visi Deklarasi Istiqlal. Hal tersebut disampaikannya dalam konferensi pers Tri Hita Karana: Universal Reflection Journey yang berlangsung di Denpasar Selatan, Sabtu (14/12/2024).
“Acara ini memancarkan harmoni antara kemanusiaan, alam, dan spiritualitas, yang terinspirasi dari filosofi hidup masyarakat Bali, Tri Hita Karana. Resonansinya melintasi batas geografis dan kultural,” ujar Tantowi.
Ttri Hita Karana adalah konsep tradisional Bali yang mengajarkan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan lingkungan. Filosofi ini dinilai relevan secara global, terutama dalam menghadapi tantangan seperti konflik sosial dan krisis lingkungan.
“Filosofi ini sangat relevan untuk masyarakat dunia yang kini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari konflik sosial hingga krisis lingkungan,” tambahnya.
Menurut Tantowi, acara ini juga menjadi medium untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Deklarasi Istiqlal, sebuah kesepakatan yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar. Deklarasi ini menekankan pentingnya perdamaian dan persahabatan antaragama sebagai dasar dunia yang lebih baik.
“Deklarasi Istiqlal menegaskan kolaborasi lintas agama sebagai fondasi masa depan yang inklusif. Nilai-nilai ini memiliki kesamaan mendalam dengan Tri Hita Karana. Ini adalah simbol persatuan yang kita perlukan untuk mencapai masa depan yang lebih baik,” ujar Tantowi.
Ia juga menilai Bali sebagai platform ideal untuk menyampaikan pesan harmoni ini kepada dunia.
“Acara ini bukan hanya tentang Bali, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai lokal dapat menginspirasi dunia,” jelasnya.
Sementara itu, Kasubdit Kemasjidan Kementerian Agama, Akmal Salim Ruhana yang turut hadir dalam acara itu menyebut, filosofi Tri Hita Karana mencerminkan peran masjid sebagai pusat spiritualitas yang mendukung keseimbangan hidup.
“Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Semangat Tri Hita Karana ini mengingatkan kita bahwa spiritualitas harus selaras dengan hubungan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan,” jelas Akmal.
Akmal juga menambahkan, Tri Hita Karana dan Deklarasi Istiqlal menunjukkan pentingnya harmoni lintas dimensi—spiritual, sosial, dan lingkungan—sebagai kunci menciptakan dunia yang damai.
“Masjid di Indonesia telah lama menjadi simbol harmoni, baik antara manusia dengan Tuhan maupun manusia dengan sesama. Deklarasi Istiqlal dan semangat Tri Hita Karana mengajarkan kita untuk mengembangkan fungsi masjid lebih luas, menjadi ruang dialog antaragama dan pusat pelestarian lingkungan,” tutup Akmal.
Fn/Mr



