Samarinda, Bimas Islam-- Tarian Rentak Bebaya yang dipersembahkan oleh Yayasan Borneo Etnika Kalimantan Timur turut memeriahkan Parade Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-30 di Samarinda, Sabtu (7/9/2024). Para penari tampil menawan dengan balutan busana khas adat masyarakat Kutai, dan memukau ratusan pasang mata yang hadir.
Tarian kreasi ini berasal dari bahasa Kutai, di mana "rentak" berarti melangkah dan "bebaya" bermakna bersama. Penampilan Rentak Bebaya bukan sekadar hiburan, tetapi juga sebuah ungkapan kearifan lokal yang mencerminkan keindahan budaya Bumi Etam. Tiga pilar budaya Kalimantan Timur—budaya keraton, budaya pesisir, dan budaya pedalaman—menyatu dalam gerakan harmonis para penari, menonjolkan nilai-nilai kebersamaan dan toleransi.
Kasubdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam Kementerian Agama, Wida Sukmawati mengatakan, tarian ini merupakan salah satu warisan seni Nusantara yang sarat makna persatuan dan toleransi.
“Tarian yang dipersembahkan dalam MTQ Nasional ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Timur, dan bangsa Indonesia pada umumnya,” ujar Wida.
Rentak Bebaya diperagakan dengan gerakan anggun, tidak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan pesan moral. Rentak Bebaya kerap dipentaskan dalam berbagai acara kebudayaan, mengajak penontonnya untuk merenungkan pentingnya kebersamaan di tengah keberagaman.
“Tarian ini mengingatkan kita bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang menyatukan kita sebagai bangsa,” tandas Wida.
Dengan gerakan tangan dan kaki yang serasi, Rentak Bebaya sukses menampilkan semangat keramahtamahan dan keterbukaan masyarakat Kalimantan Timur, dalam Parade Pawai Ta’aruf MTQ Nasional ke-30 di Samarinda.
Wcp/Mr



