Jakarta, Bimas Islam— Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kementerian Agama (Kemenag), Ahmad Zayadi, mendorong penguatan bimbingan pascanikah sebagai strategi menekan angka perceraian. Hal itu disampaikannya saat membuka Rapat Koordinasi dan Evaluasi Nasional Pelaksanaan Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin (Bimwin Catin) Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Zayadi menyebut, angka perceraian masih tinggi meski mengalami penurunan. Dampaknya, kata dia, paling banyak dirasakan perempuan dan anak. “Tahun pertama sampai kelima itu masa paling krusial. Layanan pascanikah harus kita kuatkan. Jangan kalah dengan layanan jual beli mobil,” ujarnya mengingatkan.
Ia menilai persoalan ekonomi menjadi faktor dominan pemicu perceraian. Karena itu, pemetaan kapasitas finansial keluarga baru juga perlu diperkuat. “Sebagian besar perceraian terjadi karena ekonomi. BAZNAS dan LAZ sangat mungkin memberi dukungan kepada keluarga muda,” katanya.
Selain layanan pascanikah, Zayadi mengulas rendahnya kepesertaan Bimwin Catin. Hingga kini, lanjutnya, kurang dari 50 persen calon pengantin mengikuti Bimwin sebelum menikah. “Regulasinya jelas: semua calon pengantin wajib mengikuti Bimwin,” tegasnya.
Ia membuka peluang pelibatan lembaga profesional sebagai penyelenggara Bimwin, sepanjang memenuhi standar dan sertifikasi yang ditetapkan. Hal ini juga untuk menjangkau kalangan menengah ke atas yang enggan hadir di KUA. “Kita perlu lembaga yang bisa menyelenggarakan Bimwin dengan gaya mereka. Respons dari masyarakat kelas menengah ke atas akan tinggi,” ucapnya.
Zayadi menambahkan, pendekatan Bimwin tidak boleh hanya mengandalkan pengetahuan kognitif. Pendekatan afektif dan andragogis, berbasis pengalaman orang dewasa, perlu dikuatkan. “Kalau hanya kognitif, calon pengantin hanya tahu teori. Harus ada nilai yang betul-betul masuk ke dalam diri,” ujarnya.
Ia juga menyinggung tingginya angka perkawinan anak yang berdampak pada kerentanan keluarga dan risiko stunting. “Ketidaksiapan mental dan reproduksi membuat keluarga rapuh. Bahkan penelitian menunjukkan kontribusinya terhadap kriminalitas,” kata Zayadi.
Di hadapan para peserta rakor, ia menegaskan bahwa pembangunan keluarga merupakan inti pembangunan manusia Indonesia. “Keluarga itu sel paling dasar. Menikah bukan hanya soal cinta. Akad itu agung dan harus melahirkan keluarga sakinah, mawaddah, rahmah,” ujarnya.
Sementara itu, Kasubdit Bina Keluarga Sakinah, Zudi Rahmanto, menekankan pentingnya konsistensi pelaksanaan Bimwin Catin di daerah. Ia menegaskan bahwa realisasi Bimwin menjadi salah satu indikator utama kinerja bina keluarga. “Tagihan pimpinan selalu kembali ke Bimwin Catin. Ini indikator paling kelihatan,” katanya.
Zudi menyampaikan bahwa masih ada daerah yang belum optimal dalam penyelenggaraan dan pelaporan Bimwin. Ia mengingatkan perlunya standardisasi pola pelaksanaan agar capaian antarprovinsi seragam. “Kalau satu provinsi bisa melaksanakan dengan baik, itu harus bisa direplikasi di tempat lain,” ujarnya.
Zudi berharap, kegiatan ini menghasilkan strategi bersama untuk mempercepat realisasi dan pelaporan Bimwin Catin. “Laporan Bimwin harus akuntabel karena itu rangkuman kerja kita setahun penuh,” katanya.
Rakor ini diharapkan memperkuat sinergi pusat dan daerah dalam memastikan setiap calon pengantin mendapatkan pembekalan memadai sebelum memasuki pernikahan.
Mr



