Jakarta, Bimas Islam -- Tenaga Ahli Menteri Agama, Hasanudin Ali berharap, para penyuluh dapat menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang relevan dengan kondisi masyarakat. Hal tersebut disampaikannya saat berbicara pada kegiatan Pembentukan dan Pelantikan Pengurus Organisasi Profesi Penyuluh Agama, Rabu (24/5/2023), di Jakarta.
Menurutnya, kehidupan masyarakat di Indonesia sangat dinamis. Sehingga, para penyuluh mesti pandai beradaptasi. "Indonesia kita hari ini berbeda dengan 10-15 tahun yang lalu, karena pergeseran demografi kita sangat dinamis," ujarnya.
Ia mengatakan, Indonesia puluhan tahun lalu merupakan negara agraris, karena sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani dan tinggal di desa. Namun, menurutnya, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini justru hidup di perkotaan.
"Mayoritas masyarakat Indonesia hari ini ternyata yang tinggal di pedesaan itu minoritas. Mayoritasnya di perkotaan. Hampir seluruh provinsi di Indonesia, mayoritas sudah tinggal di perkotaan," ungkapnya.
Menurutnya, perbedaan kehidupan di kota dan di desa bukan tentang geografis semata, namun juga menyangkut pada cara pandang, pola pikir, dan perilaku keagamaan. Karenanya, dibutuhkan peran penyuluh yang dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat perkotaan.
"Saya melakukan analisa terhadap para penyuluh kita, sebagian besar belum kompatibel dengan gaya hidup orang kota. Pendekatan yang dilakukan masih lebih banyak konvensional, belum masuk ke wilayah yang kreatif dan inovatif," tuturnya.
Terkait itu, Hasanudin Ali menyampaikan, organisasi profesi para penyuluh mutlak dibutuhkan. Melalui organisasi tersebut, menurutnya, para penyuluh dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensinya, di samping memperkuat kinerja dan kekompakan. Sehingga, pesan-pesan keagamaan dan wawasan kebangsaan bisa tersampaikan dengan baik.
Kegiatan Pembentukan dan Pelantikan Pengurus Organisasi Profesi Penyuluh Agama ini digelar selama empat hari, Rabu hingga Sabtu (24-27/5/2023), dihadiri sejumlah pejabat Bimas Islam Kemenag, Kanwil Kemenag Provinsi se-Indonesia sebanyak 102 orang yang terdiri dari Ketua Tim Kasi Penyuluh, Ketua Pokjaluh Provisi, Ketua FKPAI Provinsi, dan peserta penyuluh musyawarah nasional dari berbagai daerah di Indonesia yang meliputi Penyuluh Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha.
Mr



