Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) terus memperkuat sinergi antara pusat dan daerah untuk meningkatkan efektivitas kinerja Penyuluh Agama Islam. Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Pembinaan, Evaluasi Kinerja, dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama Islam Provinsi Jawa Timur yang digelar di Surabaya, Senin (14/4/2025).
Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, mengatakan, kegiatan tersebut merupakan momentum strategis untuk mendengar langsung aspirasi para penyuluh di lapangan, sekaligus memperkuat jejaring dan semangat pengabdian lintas wilayah.
“Kita ingin memastikan bahwa penyuluh agama Islam betul-betul menjadi engine of development, mesin pembangunan layanan keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Zayadi saat memberi sambutan di Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur.
Ia mengungkapkan, penyuluh merupakan bagian dari aparatur sipil negara (ASN) yang menjadi ujung tombak Kemenag dalam menghadirkan layanan keagamaan di tengah masyarakat. “Penyuluh itu alat negara, aparatus, yang diamanahi menyampaikan pesan-pesan keagamaan, membangun kerukunan, dan mendorong kualitas kehidupan beragama,” tambahnya.
Zayadi juga mengapresiasi kiprah para penyuluh di Jawa Timur yang dinilai aktif dan inovatif dalam menjalankan program prioritas Kemenag, seperti layanan Masjid Ramah bagi musafir, penyuluhan anti-stunting, serta edukasi moderasi beragama.
“Mari kita Ramadankan sebelas bulan lainnya—jadikan semangat Ramadan sebagai energi perubahan jangka panjang,” ajaknya.
Ia turut menekankan pentingnya penguatan kelembagaan penyuluh serta sinergi antarlembaga. Menurutnya, organisasi profesi seperti Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) dinilai memiliki peran strategis.
“IPARI ke depan bisa menjadi mitra penting dalam penguatan kapasitas serta advokasi kepentingan penyuluh, baik dari aspek regulasi maupun penghargaan profesi,” tuturnya.
Zayadi juga mendorong penyuluh untuk mengambil peran dalam isu-isu ekoteologi. Pada 22 April mendatang, para penyuluh akan digerakkan untuk kembali menanam sejuta pohon sebagai bagian dari komitmen keagamaan terhadap pelestarian lingkungan.
“Ini bukan sekadar aksi tanam pohon, tapi bentuk ijtihad ekologis dari penyuluh agama. Kita pernah lakukan ini saat Harlah IPARI pertama, dan sekarang kita ulangi lagi,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya dokumentasi dan pengukuran dampak setiap layanan keagamaan yang diberikan. Menurutnya, budaya tulis dan pencatatan perlu diperkuat agar program penyuluhan dapat dievaluasi secara terukur.
“Selama ini banyak ikhtiar besar, tetapi minim dokumentasi. Ini pekerjaan rumah kita bersama: jangan hanya menjadi aktor perubahan, tapi juga penutur dan penulisnya,” tegas Zayadi.
Sementara itu, Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam, Jamaluddin Marki, menjelaskan, kegiatan Pembinaan, Evaluasi Kinerja, dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama Islam Provinsi Jawa Timur itu diikuti oleh 100 peserta yang terdiri atas Penyuluh Agama Islam, perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, pegawai Kanwil Kemenag Jawa Timur, serta sejumlah pejabat wilayah.
Setelah Jawa Timur, kegiatan serupa akan dilaksanakan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Sebelumnya, kegiatan ini telah digelar di DKI Jakarta dan Jawa Barat. “Ini bukan sekadar forum seremonial, tetapi forum transformasi. Kami ingin para penyuluh merasakan bahwa mereka dilihat, didengar, dan dihargai,” pungkas Jamaluddin.
An/Mr



