Jakarta, Bimas Islam--- Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Tarmizi Tohor menilai perkembangan wakaf uang di Indonesia belum optimal. Hal itu disebabkan rendahnya literasi dan kompetensi Nazhir mengenai pengelolaannya.
“Sebagai negara mayoritas berpenduduk muslim, Indonesia memiliki potensi wakaf uang yang sangat besar. Potensi tersebut bisa dimaksimalkan dengan kapasitas Nazhir yang mumpuni,” katanya saat dihubungi via pesan whatsapp, Jumat (26/02).
Direktur menjelaskan kebanyakan Nazhir di Indonesia berasal dari ranah sosial. Sehingga tidak banyak Nazhir yang punya kompetensi manajemen ataupun pengelolaan bisnis.
“Saat ini materi utama untuk meningkatkan kompetensi Nazhir adalah soal pengelolaan dan manajemen. Itu modal utama untuk dapat mengelola besarnya aset wakaf di Indonesia,” ujarnya.
Sementara itu, Kasubdit Edukasi, Inovasi, dan Kerja Sama Zakat dan Wakaf Kemenag, Wida Sukmawati mengatakan untuk meningkatkan literasi Nazhir di Tahun 2021 subditnya akan kembali menggelar Kelas Literasi Wakaf.
“Selama Tahun 2020, 8809 peserta terdiri dari masyarakat umum, mahasiswa, akademisi, Nazhir, Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), praktisi, pegiat wakaf, Penyuluh Agama Islam (PAI) PNS dan non PNS yang tersebar di seluruh Indonesia mengikuti kelas literasi zakat wakaf yang dilaksanakan via aplikasi zoom dan youtube,” pungkasnya.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



