Jakarta, Bimasislam --- Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Muhammadiyah Amin menegaskan bahwa Ditjen Bimas Islam konsisten mengimplementasikan lima nilai budaya kerja Kementerian Agama dengan sepenuh hati. Melalui Lima Nilai budaya Kerja, yaitu (1) Integritas; (2) Profesionalitas; (3) Inovasi; (4) Tanggung jawab; dan (5) Keteladanan, disebutnya Ditjen Bimas Islam telah bertransformasi menjadi Satker yang membanggakan.
Hal tersebut disampaikannya kepada peserta Rakernas Ditjen Bimas Islam, sekaligus di hadapan motivator nasional yang juga pendiri ESQ 165, Ari Ginanjar Agustian, di Hotel Millennium Jakarta Pusat, Kamis, (14/2).
“Dengan senang hati, kami sampaikan bahwa Ditjen Bimas Islam konsisten menjadi garda terdepan dalam melakukan percepatan program sesuai dengan lima nilai budaya kerja, dan hasil survey yang dilakukan oleh Badan Litbang, Indeks Kepuasan Masyarakat terus meningkat atas layanan yang diberikan Ditjen Bimas Islam”, ungkapnya.
Dikatakan Dirjen, salah seorang yang berjasa atas lahirnya Lima Nilai Budaya Kerja adalah Pendiri ESQ Leadership Center, Ary Ginanjar Agustian. Oleh karena itu, Dirjen ingin seluruh jajaran Bimas Islam dari pusat hingga daerah belajar darinya dan kembali menghayati dan mengamalkan nilai-nilai tersebut.
Rakernas kali ini, demikian Dirjen, adalah Raker paling bermutu selama ia berada di Ditjen Bimas Islam. Oleh karenanya ia berharap Rakernas tahun ini dijadikan momentum melakuan perbaikan, terutama terkait pelayanan kepada masyarakat.
“Rakernas kali ini memiliki keistimewaan dan kekhususan. Salah satunya adalah terciptanya semangat dalam membumikan konsep moderasi Islam sesuai dengan tema Raker”, pungkas pejabat yang juga merupakan alumni training leadership ESQ itu.
Sementara itu, Ary Ginanjar Agustian mengatakan bahwa tantangan pemerintah terus berubah dari tahun ke tahun. Ia berharap Ditjen Bimas Islam mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, dengan berpegang teguh dengan Lima Nilai Budaya Kerja.
“Kita hidup di era yang sangat berbeda. Kita hidup di zaman millenial, tantangannya berbeda. Semua orang sudah mempergunakan gadget, bagaimana meningkatkan kapasitas diri kita, mental spiritual seperti apa yang harus dimiliki, dan cara berfikir seperti apa yang harus dimiliki”, terangnya.
Untuk diketahui, Lima Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama merupakan formula yang dirancang dan dirumuskan oleh Ary Ginanjar Agustian dan jajaran ESQ Leadership Center, atas permintaan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada awal kepemimpinannya.
Ketika itu, melihat indeks kinerja Kementerian Agama yang belum menggembirakan, Menag memutuskan untuk mencari formula yang tepat guna memperbaiki kualitas Kementerian Agama secara keseluruhan.
Rumusan yang kemudian diberi nama Lima Nilai Budaya Kerja itu, kemudian dipandang berhasil di dalam mengubah cara pandang, karakter, dan kinerja pegawai Kementerian Agama.
Dalam konteks Bimas Islam, perubahan positif itu ditandai dengan meningkatnya indeks layanan KUA, meningkatnya kualitas sarana prasarana layanan publik, serta terus berkembangnya program-program inovatif Bimas Islam, dan sebagainya.
Sebagai satu contoh, seorang Penghulu di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Abdurrahman Muhammad Bakry, mendapat penghargaan dari KPK sebagai pegawai pemerintah yang paling banyak melaporkan penerimaan gratifikasi. Hal yang memotivasi Bakry adalah, "Apa gunanya menghafal Lima Nilai Budaya Kerja kalau tidak memperbaiki kualitas pelayanan dan kinerja kita".
Rakernas Bimas Islam Tahun 2019 diikuti 250 peserta yang merupakan pejabat di lingkungan Ditjen Bimas Islam tingkat pusat dan daerah. Sesi akhir dari Rakernas ini ditutup dengan "leadership training" dari lembaga training ESQ leadership Center, dan dipimpin langsung oleh motivator nasional Ary Ginanjar Agustian.
Penulis: Syamsuddin
Editor: Sigit
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



