Gorontalo, bimasislam-- Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Muhammadiyah Amin mengungkapkan bahwa tradisi Tumbilotohe merupakan wujud kecintaan umat Islam Gorontalo dalam mengisi bulan suci ramadan.
Didampingi Bupati Kab. Gorontalo, Nelson Pamalingo, Kakanwil Kemenag Provinsi Gorontalo, mantan Gubernur Gorontalo yang kini menjadi Anggota DPR RI, Fadel Muhammad beserta Istri, Nana Hasanah serta ratusan masyarakat Gorontalo, Dirjen Bimas Islam pun memimpin prosesi dimulainya Tumbilotohe tahun 1439 H. Usai menyalakan api, Muhammadiyah Amin menyampaikan rasa syukur atas keterlibatannya pada tradisi yang sudah lama tidak diikutinya.
“Saya sangat mengapresiasi masyarakat Gorontalo yang hingga kini masih melestarikan tradisi Tumbilotohe“, ujar Amin usai melaksanakan Tumbilotohe atau menyalakan api di depan rumah Dinas Bupati Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Senin (11/6) malam.
Dikatakan Amin bahwa Tumbilotohe merupakan kerinduan umat Islam Gorontalo akan lailatul qadar, malam seribu bulan. “Saya pernah meneliti 102 hadis terkait lailatul qadar, Insya Allah kita akan berjumpa dengan lailatul qadar pada malam ini yaitu malam ke 27“, terang Mantan Rektor IAIN Gorontalo ini.
Namun, Profesor hadis ini mengingatkan, lailatul qadar hanya akan didapat oleh orang yang rajin beribadah sejak pertama ramadan, ia pun mengibaratkan lailatul qadar adalah pertandingan final.
“Ingat, lailatul qadar hanya untuk yang rajin ibadah dari awal puasa, seperti kompetisi, musti ikut babak penyisihan dan siapa yang sampai final itulah yang akan bertemu lailatul qadar“, tegas pria yang pernah menjabat Ketua Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri se Indonesia ini.
Amin juga menambahkan bahwa seseorang yang menjumpai lailatul qadar maka akan ada perubahan positif di dalam dirinya. “ciri ciri orang yang mendapatkan lailatu qadar pasti ada perubahan positif di dalam dirinya, tidak mungkin sama dengan sebelumnya“, tegasnya
Dikutip dari berbagai sumber, kata Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo, yaitu Tumbilo yang bermakna pemasangan, dan Tohe yang artinya lampu. Ini adalah adat yang berlangsung sejak abad ke-15, masa awal masuknya Islam di Gorontalo. Awalnya, lampu yang dimaksud tentu saja bukan lampu listrik, melainkan lampu tradisional berbahan bakar minyak kelapa.
Tradisi Tumbilotohe tidaklah sekadar meramaikan hari hari terakhir Ramadan, di balik nyalanya sinar lampu terdapat makna filosofis yang hendak disampaikan ulama terdahulu. Tumbilotohe berkisah tentang ajakan bagi umat Islam untuk semakin meramaikan masjid di hari-hari menjelang Ramadhan berakhir. Tumbilotohe pun dipasang di jalan-jalan yang mengarah ke masjid atau mushala. Tujuannya agar umat Muslim jalannya semakin terang dan mudah untuk melangkah ke masjid atau mushala.
Tradisi yang diwariskan para ulama terdahulu ini pun terawat apik hingga kini. Bahkan perhatian akan kelestarian Tumbilotohe juga datang dari pemerintah setempat dengan menggelar festival Tumbilotohe dari mulai tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.
Pantauan bimasislam, pada malam tanggal 27 Ramadan 1439 H/2018 M, masyarakat ramai memasang lampu warna warni. Dahulu kala lampu yang terpasang di depan rumah konon sesuai dengan jumlah keluarga. Bila dalam satu rumah ada 10 anggota keluaraga maka lampu yang dinyalakan juga sebanyak 10 lampu. Kota Gorontalo pun tampak meriah dan bercahaya. Anak-anak muda dan orang tua tampak berbaur dan antusias menyambut Tumbilotohe, berharap bertemu malam seribu bulan.
Penulis: Syamsuddin
Editor:
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



