Jakarta, Bimas Islam– Menteri Agama (Menang) Nasaruddin Umar memaparkan lima unsur yang harus dikuasai dai untuk berdakwah secara efektif. Hal itu ia sampaikan saat menutup Pembibitan Calon Dai Muda (PCDM) 2025 di Auditorium HM. Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Rabu (13/8/2025) malam.
Menurut Menag, lima unsur dakwah tersebut meliputi dai itu sendiri, sasaran dakwah (mad’u), materi dakwah, metode dakwah, dan media dakwah. “Kalau ingin sukses berdakwah, kelima hal ini harus diperhatikan dengan serius,” tegasnya.
Ia mencontohkan, penampilan, kualitas suara, dan penguasaan diri penting bagi seorang dai. “Kostum yang tepat dan suara yang terlatih akan menunjang keberhasilan penyampaian pesan,” ujarnya.
Menag menekankan pentingnya mengenali sasaran dakwah. Pendekatan di perkampungan berbeda dengan di perkantoran atau kampus. “Jangan samakan metode untuk anak-anak dengan mahasiswa, sesuaikan bahasa dan konteksnya,” imbuhnya.
Materi dakwah, lanjutnya, harus relevan dan segar. Dai yang terus mengulang materi lama akan membuat audiens cepat bosan. Ia mendorong dai muda memanfaatkan teknologi informasi agar pesan dakwah mutakhir. “Boleh mengulang materi lama, tapi sisipkan hal-hal baru,” pesannya.
Pada aspek metode, Menag mencontohkan tiga bentuk komunikasi dakwah: dari bawah ke atas (doa/da’wa), dari atas ke bawah (amr), dan sejajar antar-teman sebaya (iltimas). Setiap bentuk komunikasi memerlukan gaya bahasa (qaul) yang berbeda, seperti qaulan karima, qaulan layyina, atau qaulan baligha, sesuai tuntunan Al-Qur’an.
Ia mengingatkan, keberhasilan dakwah bukan diukur dari seberapa banyak audiens tertawa atau menangis, melainkan dari kemampuan dai menyalakan “lentera hati” jamaah. “Kalau lentera hati sudah menyala, ia akan terus hidup meskipun ada mubalig lain yang berceramah,” ujarnya.
Menutup paparannya, Menag menekankan pemilihan media dakwah yang tepat, mulai dari seni, film, media sosial, hingga tulisan. “Lima unsur ini, dai, mad’u, materi, metode, dan media—harus dipersiapkan secara profesional,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Abu Rokhmad mengapresiasi 200 peserta PCDM 2025 yang telah mengikuti pembekalan selama lima hari di Asrama Haji Pondok Gede dan magang di enam pesantren di Jawa Barat. “Kalian adalah bibit unggul yang akan menjadi pemimpin umat di masa depan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program ini dirancang tidak hanya memberikan teori dakwah, tetapi juga praktik lapangan. Peserta magang di pesantren yang memiliki pembinaan keagamaan yang baik serta wirausaha yang mapan. “Tujuannya agar dai muda memiliki wawasan pemberdayaan ekonomi umat,” jelasnya.
Abu berharap pengalaman selama 10 hari menjadi bekal berharga bagi peserta untuk berkembang dan berdampak di masyarakat. Ia menekankan pentingnya wawasan luas bagi dai, mulai dari ekoteologi hingga analisis usaha, agar dapat memberikan layanan yang relevan bagi umat.
PCDM 2025 digelar Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama. Kegiatan ini berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 4–8 Agustus 2025, diikuti 200 peserta dari seluruh provinsi berusia maksimal 25 tahun.
Usai pembekalan, peserta menjalani magang pada 9–13 Agustus 2025 di enam pesantren di Jawa Barat untuk mempraktikkan dakwah sekaligus mempelajari unit usaha pesantren sebagai model pemberdayaan ekonomi umat. Malam penutupan dihadiri Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar, Direktur Penerangan Agama Islam Ahmad Zayadi, Kasubdit Dakwah dan Hari Besar Islam Amirullah, serta seluruh peserta.
An/Mr



