Jakarta, bimasislam --- KH Saifuddin Amsir atau yang biasa disapa Abuya menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (19/07), pukul 01.20 WIB, karena sakit komplikasi yang dideritanya di Rumah Sakit Omni, Rawamangun, Jakarta Timur.
KH Saifuddin Amsir memlilki seorang istri bernama Hj. Siti Mas’udah dan beliau memiliki empat orang putri.
KH Saifuddin Amsir terbilang mashur di tanah kelahirannya, Jakarta. Selain mengasuh Ma’had Aly Zawiyah Jakarta, ia juga mengisi ceramah dalam berbagai acara, dan rutin di menyampaikan pengajian di berbagai majelis taklim
Beliau adalah ulama ahli fikih dari Betawi yang menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode sampai dengan tahun 2015 dengan pemikiran fikih dan kebangsaan yang patut menjadi teladan kita semua.
Atas keteguhan dan keistiqomahan beliau di bidang fikih, KH Saifuddin Amsirdianugerahi “Fikih Award” bersama tokoh lainnya, seperti KH Abdul Aziz Arbi dan KH Ali Musthofa Ya’kub dalam bidang ilmu Al Qur’an dan Hadist oleh penerbit buku Islam di Jakarta, Pena Ilmu dan Amal. Selanjut KH Saifuddin Amsir akan diangkat sebagai “Duta Fikih Indonesia” untuk menjadi tokoh pembicara utama di bidang fikih.
KH Saifuddin Amsir lahir di Jakarta pada tanggal 31 Januari 1955, tumbuh dan besar di sebuah keluarga yang sangat sederhana. Bukan putra seorang ulama, dan tidak dibesarkan di lingkungan pesantren, Ayahnya, Bapak Amsir Naiman, seorang guru mengaji di kampung tempat tinggalnya, Kebon Manggis, Matraman. Sedangkan ibunya, Ibu Nur’ain, juga seorang ibu rumah tangga yang secara penuh mengabdikan diri untuk mengurus keluarga
Sejak kecil, putra kelima dari sepuluh bersaudara ini sudah diajari sifat-sifat yang menjadi teladan bagi dirinya kelak di kemudian hari. Dengan keras sang ayah mendidiknya untuk berperilaku lurus dan mandiri. Tidak ada kompromi bagi suatu pelanggaran yang telah ditetapkan ayahnya. Bersama sembilan orang saudaranya, KH Saifuddin Amsir dibiasakan untuk menunaikan shalat secara berjamaah.
Keinginan kuatnya dalam menimba ilmu-ilmu agama sudah terpatri kuat sedari kecil. Menyadari bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga ulama dan juga bukan dari kalangan yang berada, sejak kecil, KH Saifuddin Amsir, menyiasatinya untuk berusaha mandiri dan tidak bergantung kepada kedua orangtuanya. beliau berusaha menutupi biaya kebutuhan pendidikannya sendiri, bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Berkat ketekunannya dalam belajar, KH Saifuddin Amsir selalu mendapat beasiswa dari pihak sekolah. Kegigihannya dalam terus mempelajari berbagai macam ilmu secara otodidak maupun berguru pada ulama-ulama terkemuka di masa-masa mudanya, telah menjadikannya sebagai salah seorang ulama Jakarta yang cukup disegani saat ini.
Di waktu kecil, selain mengaji kepada kedua orangtuanya sendiri, KH Saifuddin Amsir juga belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Washliyah. Di sela-sela waktunya, KH Saifuddin Amsir mempelajari berbagai macam ilmu secara otodidak. KH Saifuddin Amsir juga senang membaca berbagai macam bacaan sejak masih kecil. Sewaktu duduk di bangku tsanawiyah, KH Saifuddin Amsir mulai banyak berguru ke beberapa ulama di Jakarta.
Di antara ulama yang tercatat sebagai guru-gurunya adalah KH Abdullah Syafi’i, Muallim Syafi’i Hadzami, Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Attas, dan Guru Hasan Murtoha. Dari guru-gurunya tersebut, KH Saifuddin Amsir mempelajari berbagai cabang ilmu-ilmu keislaman. Pada saat menimba ilmu kepada Habib Abdullah Syami, di antara kitab yang KH Saifuddin Amsir khatamkan di hadapan gurunya itu adalah kitab Minhajuth Thalibin (karya Imam Nawawi) dan kitab Bughyatul Mustarsyidin (karya Habib Abdurrahman Al-Masyhur).
Di lain sisi, setelah pendidikan formalnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah usai, KH Saifuddin Amsir menjadi mahasiswa di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah (UIA) dan mendapat gelar sarjana muda di sana. Kemudian KH Saifuddin Amsir merampungkan gelar sarjana lengkapnya di Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, atau Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta saat ini. Dari waktu ke waktu dalam menempuh pendidikan formalnya itu, KH Saifuddin Amsir selalu menorehkan prestasi yang gemilang.
Adapun, beberapa karya KH Saifuddin Amsir yang telah dicetak antara lain: 1) Tafsir Jawahir al-Qur’an (empat jilid), 2) Majmu’ al-Furu’ wa al-Masail (tiga jilid), dan 3) Al-Qur’an, I’jazan wa Khawashan, wa Falsafatan. Karya yang disebut terakhir ini merupakan magnum opus/masterpiece (karya besar) Kiai Amsir yang telah diteliti oleh para sarjana dalam dan luar negeri.
Pasalnya, selain beraliran tafsir falsafi, kitab ini merupakan racikan dari beberapa tema dari kitab Jawahir al-Qur’an (hlm. 1-140), Al-Dzahab Al-Ibriz fi Khawashil Qur’an al-Aziz (142-172), Qanun al-Ta’wil (173-184). Ketiganya karya Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali.
Kitab ini juga terinspirasi dari beberap kitab, antara lain Fadhail Alquran karya Syeikh Al-Hafidz Ibn Katsir (hlm. 175-312), ‘Ajaib Alquran karya Syeikh Fakhruddin al-Razi (hlm. 313-475), dan al-Dur al-Nadzim fi Khawasi Alquran Al-Karim karya Imam al-Yafi’i (hlm. 477-623). Komentar (syarah) yang ditulis KH Saifuddin Amsir menyertai tiap bahasan yang dinukil dari kitab-kitab tersebut.
Dalam menyusun karyanya, KH Saifuddin Amsir memilih karya-karya Imam Al-Ghazali sebagai rujukan yang sangat representatif dalam membahas tema-tema terkait dengan I’jaz (Kemukjizatan), Khawas (Kekhususan), dan Falsafat (Filosofi) al-Qur’an. Dalam daftar pustaka karangannya, disebutkan al-Ghazali memiliki karya tafsir sebanyak 30 jilid.
Selamat jalan KH Saifuddin Amsir. Kembalilah kehadirat Allah dalam keadaan ridha dan diridhai-Nya.
Penulis : nhkurniawan
Editor : nhkurniawan
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



