Jakarta, Bimas Islam --- Dalam kemajemukan kita dituntun untuk toleran satu sama lain, ukhuwah islamiyah diharapkan bisa meminimalisir kekerasan-kekerasan yang timbul dalam bungkus isu agama, demikian disampaikan Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid saat menghadiri Pertemuan Kelompok Kerja Penyuluh Agama Islam Tingkat Nasional 2019, Senin (18/11) malam.
Pada kesempatan ini, Wakil Menteri Agama juga mengajak para Penyuluh Agama Islam PNS dan Non PNS untuk menyebarkan Islam yang ramah. "Mari kita bersama-sama menyebarkan Islam yang ramah, Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, Islam yang moderat, Islam yang menebarkan kedamaian, Islam yang ada di nusantara," ajak Wakil Menag.
Wakil Menag melanjutkan bahwa seseorang atau golongan bisa dikatakan radikal apabila melakukan tiga hal, yaitu: (1) Tindakan yang menciderai nilai kemanusiaan; (2) Tindakan yang mengingkari kesepakatan nasional; dan (3) Tindakan yang menganggap bahwa paham kelompok tertentu yang paling benar.
"Pertemuan hari ini adalah momen yang sangat berharga buat saya selaku Wakil Menag untuk melakukan kordinasi pembahasan permasalahan terkait dengan kepenyuluhan sekaligus momen silaturahim dalam wadah Pertemuan Pokjaluh Tingkat Nasional ini," lanjut Wakil Menag.
Kementerian Agama, Wakil Menag menambahkan, bahwa kami bukanlah apa-apa tanpa kehadiran bapak ibu semua, bagaimanapun penyuluh adalah ujung tombak yang langsung bersentuhan dengan umat. Sehingga kebijakan tentang keagamaan dalam kaitan memberikan pemahaman keagaman yang moderat dipikul dan diimplementasikan oleh para Penyuluh Agama Islam.
"Di beberapa negara dibelahan dunia sedang dalam kondisi konflik, bahkan peperangan yang tidak diinginkan yang mengakibatkan anak-anak dan warga sipil menjadi korban, hal tersebut timbul karena muncul permasalahan radikalisme dan pemahaman keagamaan yang keliru," jelas Wakil Menag.
"Semua problem bisa diselesaikan dengan cara musyawarah dan saling toleran satu sama lain, seperti yang telah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad dalam kehidupan bernegara, dan dibuktikan dengan perjanjian Madinah. Dalam perjalanan sejarahnya mengalami pergeseran nilai-nilai Agama kearah ekstrim, hal ini kemudian yang mendorong tindakan-tindakan yang merusak dan tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, sebagai contoh minggu lalu ada kejadian Bom Bunuh diri di Mapolres Medan Sumatera Utara yang notabene pelakunya adalah berasal dari keluarga baik-baik," tutup Wakil Menag.
Kegiatan ini berlangsung pada hari Senin, 18 November 2019, bertempat Hotel Best Western Plus Kemayoran Jakarta. Dihadiri Sekretaris Ditjen Bimas Islam Tarmizi Tohor, Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily, Direktur Penerangan Agama Islam Juraidi, Kasubdit Penyuluh Agama Islam, Pejabat eselon IV pada Subdit Penyuluh Agama Islam, Kasi Pemangku Tusi Penyuluh Agama Islam Provinsi, dan para Pengurus Pokjaluh se Indonesia.
Penulis: Alif
Editor: Alif
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



