Belu, Bimas Islam -- Program pengiriman dai ke wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang digelar Kementerian Agama berdampak positif bagi kehidupan beragama di tengah masyarakat. Hal itu disampaikan Kadarisman Gorang, warga Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Di tahun-tahun yang lalu, Salat Tarawih di minggu pertama bulan Ramadan bisa sampai tujuh sampai delapan shaf. Tetapi 10 malam terakhir, setengah shaf pun tidak sampai. Dengan kehadiran pak ustaz (dai 3T), sudah sampai akhir Ramadan tidak kurang dari tiga shaf. Itu yang kami rasakan. Kehadiran beliau sangat memotivasi kami untuk lebih rajin beribadah," ungkap Kadarisman kepada Tim Bimas Islam, Senin (17/4/2023).
Ia juga mengatakan, pesan dakwah yang disampaikan para dai dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. Hal itu, katanya, tak lepas dari cara penyampaian dan metode yang digunakan para dai dalam menyampaikan pesan dakwahnya.
"Bahasa yang dipakai (para dai itu) sesuai dengan kondisi warga muslim di sini. Pendidikan warga muslim di sini berbeda-beda, ada yang hanya tamat SD, SMP, ada juga yang lulusan perguruan tinggi. Para dai sudah memahami metode yang harus digunakan," ucapnya.
Kendati demikian, menurut Kadarisman, program pengiriman dai ke wilayah 3T ini terlalu singkat. Ia berharap, program ini dapat berjalan lebih lama dan tidak hanya berlangsung di bulan Ramadan.
"Kami puas, tetapi belum puas. Belum puas karena waktunya terlalu singkat, dan puas karena materinya sangat luar biasa," ujarnya.
Terdapat tiga dai yang ditugaskan di Kabupaten Belu, yaitu Musa Wardi asal Padang Pariaman, Abdul Jabar Idharudin asal Banten, dan Mahsun asal Lombok. Ketiga dai tersebut telah menyelesaikan tugas dakwahnya pada 17 April 2023. Mereka bertugas selama 26 hari di bulan Ramadan.
Mr



