Jakarta, Bimas Islam – Kementerian Agama (Kemenag) mengoptimalkan peran masjid, organisasi masyarakat (Ormas) Islam, dan penyuluh dalam memperkuat fungsi agama di masyarakat. Upaya ini bertujuan mewujudkan agama yang berdampak nyata dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara.
"Sikap beragama yang berdampak adalah sikap beragama yang memberi efek positif dalam kehidupan sehari-hari. Kami berkomitmen mengoptimalkan berbagai lembaga yang ada, seperti masjid, Ormas Islam, hingga para penyuluh agama yang menjadi ujung tombak dalam merawat dan memberdayakan umat," ujar Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kemenag, Abu Rokhmad kepada media, Senin (17/2/2025).
Salah satu langkah konkret yang dilakukan Kemenag adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas penyuluh agama Islam. Abu menyebut, sebagian besar penyuluh agama kini telah berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan kesejahteraan yang lebih baik.
"Kemenag akan terus mendorong peningkatan kapasitas penyuluh agar mereka dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada masyarakat, termasuk dalam pembinaan mualaf dan keluarga sakinah," imbuhnya.
Di era digital, Kemenag juga memanfaatkan teknologi untuk mendekatkan layanan agama kepada masyarakat. Berbagai informasi keagamaan, seperti jadwal kajian, layanan zakat, serta program pembinaan keluarga, kini dapat diakses melalui platform digital.
"Bimas Islam telah melakukan berbagai upaya transformasi digital, seperti digitalisasi program Penyuluhan Agama Islam, SIMAS (Sistem Informasi Masjid dan Musala), Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH), dan bisa juga melalui Pusaka Kemenag SuperApps," jelasnya.
Selain itu, Kemenag mengembangkan sistem pendataan yang lebih terukur untuk memantau efektivitas program keagamaan.
"Setiap kegiatan yang dilakukan, mulai dari jumlah mualaf yang dibina hingga tingkat keberhasilan program keluarga sakinah, akan dipantau dan diukur secara sistematis. Hal ini bertujuan agar kontribusi agama dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya dapat terukur secara konkret," imbuhnya.
Kolaborasi dengan Ormas Islam juga menjadi bagian penting dalam upaya ini. Menurutnya, ormas memiliki jaringan luas yang dapat memperkuat penyuluhan agama, memperluas program bimbingan, serta menangani berbagai isu sosial dan ekonomi.
"Kami juga mengembangkan program-program pemberdayaan ekonomi umat, kampung zakat, wakaf, dan hingga kampung moderasi beragama, yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial," ujarnya.
Abu menegaskan, seluruh program yang dijalankan bertujuan memastikan agama memberikan dampak nyata dalam pembangunan sosial dan ekonomi, sekaligus berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.
"Pernikahan yang berhasil, keluarga yang sakinah, dan masyarakat yang produktif akan menjadi pondasi bagi kemajuan bangsa. Jika kita berhasil membina keluarga-keluarga yang tangguh, kita akan memiliki masyarakat yang kuat dan sejahtera," katanya.
Ia berharap, peran agama dalam pembangunan Indonesia semakin meningkat sejalan dengan upaya pemerintah menciptakan Indonesia Emas 2045 yang sejahtera, berkeadilan, dan berbasis keluarga.
"Kami berharap peran agama dalam pembangunan Indonesia dapat terus meningkat, seiring dengan upaya pemerintah untuk menciptakan Indonesia Emas 2045 yang sejahtera, berkeadilan, dan berbasis keluarga," tandasnya.
Sebelumnya, Abu juga menegaskan hal serupa pada kegiatan Jambore Dakwah Mualaf se-Jawa Tengah di Gedung Muzdalifah, Asrama Haji Donohudan, Boyolali, pada Jumat malam (14/2/2025). Kegiatan itu diikuti 550 peserta yang terdiri dari mualaf, Pengurus Rumah Mualaf MUI, Ketua MUI, Ketua BAZNAS Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah, serta perwakilan MUI se-Indonesia.
An/Mr



