Bogor, Bimas Islam -- Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono Abdul Ghafur mengungkapkan pentingnya optimalisasi zakat dan wakaf untuk pengembangan pendidikan Islam dan sumber daya manusia. Hal itu disampaikannya dalam seminar nasional bertajuk Optimalisasi Zakat dan Wakaf untuk Pengembangan Pendidikan Islam dan Kader SDM Unggul di Masjid I’tikaf Kampung Maghfirah, Bogor, Minggu (2/2/2025).
"Zakat tidak hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan dasar fakir miskin, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung pendidikan Islam. Integrasi pendidikan pesantren dengan pengelolaan zakat dan wakaf akan memperkuat kapasitas generasi muda sebagai calon muzaki dan pengelola zakat profesional," ujarnya.
Waryono juga menegaskan pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan dana sosial keagamaan. Menurutnya, meskipun jumlah muzaki di Indonesia mencapai 34 juta orang, jumlah amil zakat yang kompeten masih belum memadai.
"Amil adalah profesi yang disebut dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, mereka harus dilatih agar mampu mengelola zakat secara optimal dan transparan," tegasnya.
Dukungan Beasiswa dan Program Pendidikan Berbasis Zakat
Sebagai bagian dari upaya pengembangan pendidikan berbasis zakat dan wakaf, Kemenag juga mendukung berbagai program kolaborasi di bidang beasiswa dan pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kualitas SDM.
Berbagai program beasiswa prestasi disiapkan bagi siswa dari jenjang SD hingga perguruan tinggi, termasuk program khusus seperti Beasiswa Cendekia BAZNAS Kota Tangerang, Tangerang Cerdas, dan Beasiswa Kaderisasi Dai. Sementara itu, daerah tertentu seperti Papua dan Kalimantan mendapatkan perhatian melalui program Papua Barat Cerdas dan Kalbar Pintar.
Untuk membantu anak yatim dan duafa, tersedia Beasiswa Yatim Dhuafa, Paket Sekolah Dhuafa & Yatim, serta Program Asrama Pemberdayaan Yatim & Dhuafa. Program SKSS (Satu Keluarga Satu Sarjana) juga hadir untuk membantu keluarga kurang mampu agar memiliki lulusan sarjana pertama di keluarga mereka.
Di bidang keterampilan dan kewirausahaan, beberapa program yang dikembangkan meliputi SMK Entrepreneur, Mandiri Entrepreneur Center (MEC), dan Program Yatim Bisa Kerja (LKP). Ada pula program Bina Pendidikan dan Cinta Guru yang berfokus pada peningkatan kapasitas guru dan pendidikan berkelanjutan.
Dukungan untuk Pendidikan Tahfiz dan Infrastruktur Sekolah
Dalam aspek pembinaan spiritual, Kemenag mendukung pengembangan Rumah Tahfidz, Program Tahfidz, dan Program SMP Tahfidz Ibnu Batutah. Sementara itu, bantuan perbaikan sarana pendidikan dilakukan melalui Renovasi Rumah Belajar Pelosok serta Bantuan Perbaikan Sarana dan Prasarana Pendidikan.
Untuk membantu siswa dalam persiapan akademik, tersedia program seperti Bimbel SBMPTN, Bimbel Dhuafa, dan Digital For Gen Z. Selain itu, Back To School (BTS) dan Gema Insan Cendekia menyediakan bantuan perlengkapan dan dukungan akademik bagi pelajar.
"Kita perlu regulasi yang lebih kuat untuk mendukung percepatan pengelolaan zakat dan wakaf, termasuk audit syariah yang lebih ketat. Konflik administrasi wakaf masih menjadi tantangan besar, sehingga koordinasi antara Kantor Urusan Agama (KUA) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) harus diperkuat," tandas Waryono.
Selain zakat, seminar ini membahas potensi dana sosial lainnya, seperti kurban. Waryono mencatat bahwa pada 2024, dana kurban masyarakat mencapai Rp20 triliun. Ia mengusulkan agar mahasiswa dan santri dibekali keterampilan sebagai kader peternak, sehingga dana kurban dapat dikelola secara produktif.
Seminar ini dihadiri lebih dari 150 peserta, termasuk mahasiswa, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan Islam (STIPI), serta pengajar Pondok Pesantren Maghfirah Islamic Leadership Boarding School. Dalam pemaparannya, Waryono menekankan bahwa zakat dan wakaf dapat menjadi motor penggerak dalam mencetak kader unggul melalui pendidikan.
And/Mr



