Kegiatan yang menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia itu digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama bersama Kementerian Sekretariat Negara, dan didukung oleh Majelis Dzikir Hubbul Wathon.
“Inilah penggambaran Indonesia. Semua pihak, semua kelompok agama hadir di sini, pertanda bahwa kita ini betul-betul Indonesia yang sangat utuh, solid, dan istimewa. Sulit menemukan negeri seperti Indonesia ini,” ujar Menag.
Ia mengatakan, kehadiran para tokoh lintas agama di Tugu Proklamasi menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia dapat mempertahankan kemerdekaan melalui kebersamaan, keberagaman, dan kekuatan spiritual yang menyatukan.
Menurut Menag, kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari kekuatan doa dan perjuangan spiritual para tokoh agama dan umat beriman. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw. bahwa doa adalah senjata paling ampuh orang beriman, serta mengingatkan agar kekuatan doa tidak dipandang sebelah mata dalam menjaga keutuhan bangsa.
“Tempat ini sangat historis. Di sinilah naskah proklamasi dibacakan oleh Soekarno-Hatta pada Jumat, 9 Ramadan 1364 Hijriah, bertepatan dengan 17 Agustus 1945. Ada berkah Ramadan dalam pencapaian kemerdekaan saat itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam Islam terdapat berbagai istilah untuk menggambarkan makna kemerdekaan. “Ada istiqlal yang berarti bebas dari penjajahan dan penguasa zalim. Ada juga hurriyah, kebebasan berpikir dan berekspresi. Kemudian tahrir untuk merdeka dari penindasan, dan ’itq untuk kemerdekaan dari perbudakan,” jelasnya.
Semua itu, lanjutnya, bermuara pada satu kata kunci: istiqlal. Tidak ada hurriyah, tahrir, atau ’itq tanpa istiqlal. "Maka Masjid Istiqlal dibangun sebagai nazar bangsa, simbol kemerdekaan yang menyatukan semua agama, etnis, dan warna kulit di Indonesia,” lanjutnya.
Menag juga mengungkapkan pentingnya mengisi kemerdekaan secara menyeluruh. Ia menyambut baik visi Presiden Prabowo Subianto yang mendorong pemerataan gizi anak, peningkatan kualitas pendidikan, dan akses pendidikan tinggi tanpa diskriminasi.
“Kemerdekaan tidak akan bermakna jika masih ada anak-anak yang kelaparan atau tertinggal pendidikannya. Presiden kita berkomitmen pada kemerdekaan total yang menyentuh aspek paling dasar kehidupan rakyat,” tegasnya.
Ia menyebut, ketahanan bangsa tidak cukup ditopang oleh kekuatan fisik dan ekonomi, tetapi juga harus dirawat melalui spiritualitas kolektif. Menurutnya, zikir dan doa kebangsaan merupakan ikhtiar menjaga dimensi ruhani bangsa di tengah dinamika zaman.
“Dari anak kecil hingga orang tua, semuanya punya hak untuk mempertahankan bangsanya, termasuk lewat doa seperti malam ini. Ini bukan seremonial, tapi ekspresi kecintaan dan pengabdian kepada tanah air,” tuturnya.
Menag menekankan pentingnya menjaga keunikan Indonesia sebagai negara besar yang memiliki ribuan pulau, ratusan etnis, dan berbagai agama. “Indonesia adalah trend setter negara plural. Tidak ada yang seperti kita. Mari kita jaga dan syukuri kemerdekaan ini dengan jihad intelektual dan spiritual,” ujarnya.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu menyebut Zikir dan Doa Kebangsaan sebagai momen reflektif dan afirmatif bahwa semangat proklamasi 80 tahun silam tetap hidup dalam kebersamaan umat beragama. Ia berharap kegiatan ini dapat memperkuat nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan harmoni antarumat beragama di Indonesia.
Doa lintas agama dipanjatkan secara bergiliran oleh para tokoh dari enam agama resmi di Indonesia. Dari kalangan Islam, doa disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Iskandar. Perwakilan Kristen, Pendeta Jason Balumpueng selaku Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGPI), turut mendoakan bangsa dan negara.
Romo Fransiskus Yance Sengga, Sekretaris Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), mewakili umat Katolik. Doa dari umat Hindu dibacakan oleh Jero Mangku Gede Pastika dari Pinandita Sanggraha Nusantara. Bhikkhu Dhamma Fudotera Victor Jaya Kusuma mewakili umat Buddha, sementara dari komunitas Khonghucu, doa dipanjatkan oleh Wunse Sunarta Hidayat.
Turut hadir Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro, Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, serta para pejabat eselon I dan II Kementerian Agama.
An/Mr



