Menurut Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik, Dedi Slamet Riyadi, Simpeka akan menjadi alat yang dapat digunakan oleh agen, aktor, dan pegawai Kemenag untuk mendeteksi potensi konflik di lingkungannya. "Kita membutuhkan sistem terpadu sehingga mereka bisa mendeteksi potensi konflik, melaporkannya, dan kita bisa langsung merespons," ujar Dedi kepada wartawan, Jumat (19/1/2024).
Tujuan utama sistem ini adalah membangun pencegahan, mencegah konflik sosial berdimensi keagamaan agar tidak berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Aplikasi ini merupakan hasil kerja sama antara Kemenag, Balai Litbang Agama Jakarta, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Dalam tahap uji coba di beberapa lokasi, Simpeka diharapkan dapat segera diimplementasikan lebih luas setelah disempurnakan. "Kita berharap untuk merilis tahun ini. Meskipun belum dapat diimplementasikan secara luas saat ini, aplikasi ini sudah diuji coba di beberapa tempat," tambah Dedi.
Simpeka merupakan tindak lanjut dari Keputusan Dirjen Bimas Islam, sebagai respons terhadap KMA 332 Tahun 20234 mengenai sistem peringatan dini konflik paham keagamaan Islam. Dedi optimis bahwa para penyuluh agama dan aktor lapangan dapat merespons potensi konflik dengan tanggap, efektif dalam mencegah konflik keagamaan di masyarakat.
Sebagai langkah proaktif, Kemenag terus mengembangkan solusi untuk memastikan keberagaman Indonesia tetap menjadi kekuatan, bukan sumber ketegangan. Simpeka diharapkan dapat menjadi wadah yang efektif dalam membangun dan menganalisis data terkait potensi konflik keagamaan.
Fn/Mr
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



