Jakarta, Bimas Islam – Ketua Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU), Mokhamad Mahdum memperkenalkan Balance Score Card (BSC) sebagai alat peta jalan untuk menilai indikator kesuksesan masjid. Ia menyebut, metode itu telah digunakan LTMNU yang bertujuan menjadikan masjid sebagai pusat peradaban.
“Dalam pendekatan pentahelix kami menggunakan BSC yang diintegrasikan ke dalam visi LTMNU, meliputi aspek ibadah (ubudiyah), sosial (ijtima’iyah),_ekonomi (iqtishodiyah), pendidikan (tarbiyah), serta dakwah,” ujar Mahdum saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sarasehan Kemasjidan dan Lokakarya Nasional Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) di Jakarta, Kamis (18/7/2024).
Mahdum menjelaskan, pertama, dari perspektif pemangku kepentingan (stakeholder perspective). Perspektif tersebut meliputi pentingnya melihat peningkatan jumlah jemaah, penurunan kemiskinan, peningkatan jumlah ZISWAF, peningkatan kesalehan jemaah, dan tingkat moderasi jemaah.
Kedua, imbuhnya, perspektif pelanggan (customer perspective). Pihaknya mengungkapkan pentingnya kualitas layanan masjid. Ia mencontohkan pembayaran zakat yang masih mengharuskan penggunaan uang tunai, padahal mayoritas masyarakat telah menggunakan QRIS.
“Mesti ada platform digital untuk bayar zakat di masjid, termasuk QRIS. Ini adalah bentuk layanan kepada masyarakat. Jadi, tidak harus menggunakan uang cash terus,” ungkapnya.
Selanjutnya, dari perspektif proses bisnis internal (internal business process). Mahdum menekankan pentingnya tata kelola masjid. Pihaknya mencontohkan terkait penjadwalan khatib salat Jumat yang terkadang tidak dikoordinasikan dengan baik oleh pihak masjid, serta hubungan antara takmir dan pengelola zakat yang sering bermasalah.
“Jika pihak pengurus masjid tidak menghubungi untuk memastikan kembali kehadiran khatib, maka ini adalah contoh tata kelola yang tidak bagus,” ucapnya.
Terakhir, Mahdum menyebut, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth). Ini meliputi tanah dan bangunan, infrastruktur dan IT, jumlah dan kualitas marbot, takmir, dan imam, serta biaya operasional.
“Melalui pendekatan BSC, kami berharap masjid dapat berfungsi sebagai pusat peradaban yang mampu menjawab berbagai tantangan dan kebutuhan umat secara menyeluruh,” terangnya.
Merespons hal itu, Kasubdit Kemasjidan, Kemenag, Akmal Salim Ruhana menyambut baik pendekatan yang ditawarkan LTMNU. Menurutnya, penerapan BSC yang lazim dalam sistem manajemen perencanaan strategis dapat menunjang dan meningkatkan profesionalitas pengelolaan masjid.
“Kami senang dengan pendekatan yang ditawarkan tersebut. Dalam pembinaan kemasjidan, kami mengerucutkan goals, yakni memprofesionalkan pengelolaan masjid, memoderatkan cara pandang segenap ekosistemnya, serta memberdayakan masjid yang akan memberdayakan jemaah,” tandas Akmal.
Wcp/Mr



