Padang, Bimas Islam --- Ada yang mengharukan di ajang Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) Nasional XXVIII tahun 2020 di Kota Padang, Sumatera Barat. Rasa haru itu berasal dari Gedung Rohana Kudus, venue yang digunakan untuk musabaqah Cabang Tilawah Golongan Disabilitas Netra.
Pertama kali datang ke lokasi, Bimas Islam langsung merasa haru. Jika di venue lain seluruh peserta berjalan sendiri memasuki tempat daftar ulang, di venue kedua ini seluruh peserta dituntun sejak memasuki gedung.
Tangan mereka digandeng oleh pelatih, official, atau anggota keluarganya. Tiba di tempat verifikasi peserta, mereka dibimbing untuk menempelkan jempol di alat pemindai sidik jari. Setelah selesai, mereka kembali dituntun menuju ke tempat duduk untuk menunggu dipanggil.
Begitu dipanggil untuk tampil, mereka berdiri agak tergesa namun tak berani melangkah dengan bergegas. Mereka harus kembali dituntun menuju mimbar lomba. Berjalan pelan-pelan, seperti gugup.
Sesampainya di panggung tilawah, mereka pun tak lekas duduk. Harus diberi instruksi, lalu duduk secara perlahan, pelan-pelan. Setelah duduk sempurna, microphone diposisikan tepat di depan lisannya, lalu pengantar membimbing tangan mereka untuk memegang microphone, agar tahu posisinya, sehingga mudah disesuaikan.
Berselang detik, pengantar kembali ke tempat. Bel pertama dibunyikan, tanda jika peserta boleh mulai membaca tilawah sesuai maqro' yang telah ditentukan.
Meski berjalan dan melakukan banyak kegiatan dengan dituntun atau dibantu orang terdekat, tidak demikian ketika para peserta yang notabene seorang qori'/qori'ah ini mulai membaca Al-Qur'an. Lisan mereka lancar melantunkan Kalam Allah yang mulia. Fasih, merdu, juga menyentuh hati. Banyak hati terketuk. Banyak air mata yang tumpah.
Seisi ruangan mendadak hening, kemudian dibanjiri haru yang menyeruak ketika kalimat ta'awwudz dilantukan oleh qori'/qori'ah. Semua mata terpaku ke arah peserta. Tak ada obrolan antar para penonton. Hanya decak kagum dan haru yang kian bertambah.
Setiap peserta diberi waktu selama 10 menit. Tepat di menit ke-8, bel dibunyikan dua kali sebagai tanda bahwa waktu akan berakhir. Tepat di 10 menit, bel dibunyikan sebanyak tiga kali sebagai peringatan bahwa peserta harus segera mengakhiri tilawahnya.
Di sepanjang 10 menit itu, penonton, official, dan semua yang ada di ruangan seperti terhipnotis. Mukjizat Al-Qur'an berpadu harmonis dengan suara qori'/qori'ah istimewa yang kerap divonis kekurangan oleh sebagian orang yang tak mengerti.
Setelah lantunan shodaqollahul 'azhiim tunai dari lisan mereka, petugas penjemput bergegas mendatangi peserta. Mereka kembali dibantu untuk berdiri, lalu dituntun menuju tempat keluar peserta. Di ujung sana, pihak pendamping dari keluarga atau official sudah menunggu.
Saat berada di Venue 2 MTQ Nasional 2020 ini, rasa-rasanya seperti ditampar berulang kali. Ada bangga yang tunai, tetapi juga malu yang menyeruak. Betapa mereka yang tak seperti kita mampu mengoptimalkan diri untuk belajar Al-Qur'an, sedang kita yang diberi lebih banyak nikmat justru banyak lalai, beralasan, bahkan tak jarang menggunakan nikmat penglihatan ini untuk melakukan dosa.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



