Tegal, Bimas Islam --- Puluhan pengamen berkumpul setiap Jumat pagi mengeja huruf hijaiyah di Taman Baca Masyarakat Sakila Kerti—sekolah terminal— di Kota Tegal. Mereka belajar alif, ba, ta sambil menunggu bis datang.
Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kota Tegal, Darsiti dari akhir 2015 sengaja terjun langsung ke terminal, untuk menjadikan sasaran dakwah. Di sana para pedagang asongan, gepeng (gelandangan dan pengemis), para supir dll sangat membutuhkan bimbingan agama.
“Mereka mengaji sambil menunggu bis datang. Jika datang, mereka akan berjualan terlebih dahulu baru kembali lagi mengaji,” katanya.
Menurut Darsiti, pembinaan agama dengan memanfaatkan waktu luang kaum yang menggantungkan kebutuhan nafkah di terminal sangat efektif. Terbukti peserta didiknya merasa nyaman dan tidak pernah absen untuk terus menuntut ilmu setiap pekannya.
“Kegigihan belajar membuat mereka mampu mengenal huruf hijaiyah bahkan dapat membaca Al-Qur'an dengan baik dan pengamalan agama yang lain seperti berwudhu dan salat,” ujarnya.
Dalam berjuang membasmi buta aksara arab, Darsiti tidak sendiri. Ada pelbagai pihak yang turut serta membantu dalam berjuang, di antaranya Lingkungan Kemenag maupun Dinas lainya, terutama Kepala Kemenag Kota Tegal, Akhmad Farkhan dan Pengelola Taman Baca Masyarakat Sakila Kerti Kota Tegal, Yusqon.
‘Perang’ membasmi buta aksara penghuni terminal Kota Tegal selama lima tahun sekarang membuahkan hasil. Sekarang mereka tidak hanya bisa membaca Al-Qur'an tetapi juga wudhu dan salat.
(bimasislam)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



