Jakarta, Bimas Islam -- Setiap 1 Muharam, umat Islam di seluruh dunia memperingati Tahun Baru Hijriah, yang merupakan momentum untuk refleksi dan transformasi, terutama dalam perbaikan bagi individu, masyarakat, bangsa, dan negara. Demikian disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam, Kementerian Agama, Ahmad Zayadi di Radio Elshinta, Minggu (7/7/2024).
"Semangat Muharam harus benar-benar menjadi inspirasi buat kita dalam melakukan perubahan, dan transformasi yang signifikan. Kemudian membawa kemajuan, kebaikan, dan perbaikan, terutama bagi individu, masyarakat, bangsa dan negara," ujar Zayadi.
Zayadi mengungkapkan, pergantian tahun Hijriah harus disikapi dengan memperkuat karakter kenusantaraan, dimulai dengan introspeksi atas apa yang sudah dilakukan, dan merancang strategi ke depan. Tahun baru Hijriah juga penting untuk mengingat bagaimana norma dan agama memberi inspirasi untuk perbaikan kehidupan dan akhlak untuk menyongsong Nusantara baru dan Indonesia maju.
"Dalam kaitan dengan peringatan tahun baru, yang perlu kita lakukan hari ini tidak hanya melihat bagaimana ke depan, tapi penting bagi kita untuk melihat ke dalam diri kita, dan sekaligus bagaimana bangsa kita. Ini juga menilai apa yang perlu diperbaiki, dikoreksi, dan ditingkatkan agar kehidupan kita semakin baik," ungkap Zayadi.
Introspeksi tersebut, lanjut Zayadi, ditindaklanjuti dengan mengelola harapan sehingga memiliki semangat optimisme. Dengan terus optimis, seluruh harapan dapat terwujud.
"Jika kita mampu memimpikannya, insyaallah kita akan mampu merealisasikannya. Saya kira optimisme dan harapan itu yang perlu kita kelola," ucap Zayadi.
Tradisi Budaya dan Amalan Tahun Baru Hijriah
Dengan karakter bangsa yang religius, Zayadi menuturkan, umat Islam di Indonesia memiliki beragam amalan saat menyambut Tahun Baru Hijriah. Di antaranya memanjatkan doa akhir tahun, kemudian membacanya setelah Salat Ashar, dan setelah Salat Magrib, membaca doa awal tahun.
"Ini bagian dari sunnah hasanah, dari tradisi yang baik yang dengannya kemudian menjadi modal yang besar," tuturnya.
Peringatan Tahun Baru Hijriah juga diikuti dengan peringatan 10 Muharam yang dijuluki Hari Raya Anak Yatim. "Ini tradisi tradisi yang sangat luar biasa baiknya, dan tentu harus diteruskan. Sehingga kesadaran spiritual, kesadaran teologis itu senantiasa mengiringi hidup dan kehidupan kita," tutur Zayadi.
Tradisi seperti pawai obor dan makan bersama juga menjadi nostalgia sendiri bagi masyarakat Indonesia. Zayadi mengatakan, tradisi pasti mengalami penyesuaian seiring berkembangnya zaman, namun harus lebih baik dari sebelumnya.
"Hari ini kita kadang kala salah kaprah mengambil tradisi baru yang secara etik, secara normatif justru tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan yang dulu normalnya. Yang harus diperhatikan, adalah kita mengambil tradisi baru, nilai baru, dengan catatan, yang baru itu harus lebih berkualitas," pesan Zayadi.
Zayadi berharap, peringatan Tahun Baru Hijriah membawa semangat untuk menjadi yang lebih baik. "Sekali lagi, dengan tahun yang baru ini, kita punya semangat baru. Menjadi titik balik untuk kemudian kita melihat ke depan, merekonstruksi bagaimana kegiatan ke depan menjadi lebih baik," pungkas Zayadi.
Fn/Mr



