Pesan itu disampaikannya saat menjadi narasumber pada Seminar Persaudaraan Manusia yang digelar Majelis Hukama Muslimin (MHM) Kantor Cabang Indonesia, di Jakarta, Senin (26/2/24).
“Memberikan pencerahan kepada masyarakat secara global tentang pentingnya pengetahuan, pemahaman, sikap perilaku, dan penghormatan persaudaraan kemanusiaan sangat penting. Sebab, interaksi manusia dalam keragaman agamanya juga sangat luar biasa,” paparnya.
Dikatakannya, upaya yang dilakukan Kemenag untuk mewujudkan hal itu, pertama, adalah mengembangkan Kampung Moderasi Beragama. Terdapat 1.000 kampung yang tengah dibina dan akan menjadi contoh bagaimana penghargaan sesama manusia diamalkan.
"Umat Islam, anak mudanya dikumpulkan, dirukunkan, mengajak mereka untuk mengamalkan dan merefleksikan dalam interaksi keseharian agar mereka bisa saling menghormati dan menghargai, meski beda keyakinan,” paparnya.
Kedua, lanjutnya, adalah membuat naskah khotbah. Setiap Jumat, Kemenag membuat 5 hingga 6 naskah khotbah untuk dibagikan ke masyarakat. "Setiap Jumat kita siapkan 5 hingga 6 naskah untuk dipilih masyarakat. Naskah itu diunduh dan dibaca masyarakat luas. Ini salah satu instrumen yang kita lakukan untuk mendiseminasikan cara pandang yang moderat," sebut Kamaruddin Amin.
Ketiga, Majelis Dai Kebangsaan. Kemenag melatih para dai dan menghimpunnya dalam wadah Dai Kebangsaan. Saat ini, Majelis Dai Kebangsaan sudah memiliki 12 ribu anggota di seluruh Indonesia. Pembinanya para Gubernur dan Bupati seluruh Indonesia dan Ketua MUI.
"Ini harus dikerjakan secara masif dan terstruktur. Tidak bisa parsial oleh kelompok tertentu. Mereka punya wawasan moderat dan toleran dan memiliki wawasan kebangsaan yang bagus. Tidak hanya menjadi umat yang baik, tetapi warga negara yang baik," sambungnya.
Pada acara yang juga dihadiri Prof. M Quraish Shihab itu, Kamaruddin mengapresiasi ikhtiar tokoh dunia, mulai dari Grand Syekh Al Azhar, Paus Fransiskus, termasuk Prof M Quraish Shihab, untuk ikut terus menghidupkan semangat persaudaraan kemanusian.
“Apa yang dijelaskan Prof Quraish adalah sejarah penting yang menggambarkan upaya para tokoh dalam menguatkan persaudaraan kemanusiaan,” imbuhnya.
Pada kesempatan itu, pendiri MHM, Prof. M Quraish Shihab menceritakan ihwal awal mula tercetusnya dokumen Piagam Persaudaraan Manusia yang ditandatangani Grand Syekh Al Azhar dan Paus Fransiskus pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi.
Sehari sebelum penandatanganan dokumen tersebut, ada 12 tokoh MHM, termasuk dirinya dan Grand Syekh yang sempat bertemu dengan Paus Fransiskus. Masing-masing diberi kesempatan Grand Syekh untuk menyampaikan sesuatu dalam konteks pertemuan dua tokoh.
Karena Grand Syekh dan Paus Fransiskus memiliki semangat yang sama akan persaudaraan manusia, maka pada 4 Februari 2019 ditandatangani sebuah dokumen Persaudaraan Manusia.
Setahun kemudian, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 4 Februari sebagai Hari Persaudaraan Manusia Sedunia.
Sebagai informasi, MHM adalah sebuah badan internasional independen yang dipimpin Grand Syekh Al-Azhar, Imam Akbar Ahmed Al-Tayeb. MHM didirikan di Abu Dhabi pada tahun 2014.
An/Mr
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



