Tantangan penyuluh agama saat ini, menurut Kamaruddin, adalah kurangnya pengakuan dari publik. Ia mendorong penyuluh agama untuk berjuang dan bekerja keras dalam menentukan langkah teknis dan produktif untuk mendapatkan pengakuan tersebut.
“Kita perlu berjuang dan bekerja keras, menentukan langkah-langkah teknis, langkah-langkah produktif untuk bisa mendapatkan rekognisi masyarakat tentang eksistensi, dan kontribusi para penyuluh yang selama ini sangat luar biasa,” ungkap Kamaruddin.
Kamaruddin menyebut, masyarakat perlu mengetahui secara penuh kegiatan para penyuluh agama yang dilakukan secara profesional, sehingga dapat meningkatkan derajat sebagai seorang penyuluh.
Kamaruddin berpesan kepada penyuluh agama untuk memiliki langkah konkret dan berdampak yang bisa dirasakan para stakeholder penyuluh. Karenanya, penyuluh harus mengatur knowledge management, agar aktivitas yang dilakukan tersampaikan secara optimal ke masyarakat.
“Knowledge management itu adalah merekam dan mendokumentasikan, mempromosikan apa yang terjadi. Mungkin lewat Subdit yang bekerja sama mengidentifikasi kemudian merangkum, mengkoleksi best practice semua aktivitas yang baik, yang dilaksanakan, atau dikontribusikan oleh para penyuluh kita, kemudian disampaikan ke masyarakat,” ucap Kamaruddin.
Rakernas IPARI turut dihadiri Kasubdit Penyuluh Agama Islam Amirullah, Pengurus Pusat IPARI, serta perwakilan Pengurus Wilayah IPARI di seluruh Indonesia.
Fn/Mr



