Majene, Bimas Islam -- Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin mendorong penghulu dan penyuluh mengambil peran sebagai playmaker penguatan ketahanan keluarga dan penanganan stunting.
Hal itu disampaikannya dalam di hadapan Civitas Akademika STAIN Majene, penghulu, dan penyuluhan se-kabupaten Majene, saat memberi kuliah umum bertajuk 'Keluarga sebagai Social Capital Menuju Generasi Emas' di Lecture Theatre Gedung Kuliah Terpadu STAIN Majene, Sulawesi Barat, Sabtu (23/9/2023).
"Saat ini, Ketahanan Keluarga menjadi isu sentral. Angka perceraian tiap tahunnya sangat tinggi dan stunting angkanya juga cukup besar. Karenanya, penghulu dan penyuluh mesti mengambil peran sebagai playmaker penguatan ketahanan keluarga dan penanganan stunting,” ungkapnya.
Menurut Dirjen, penghulu menjadi bagian dari setiap peristiwa nikah. Karenanya, ia mendorong penghulu untuk memberi penguatan dan pengarahan bagi calon pengantin (Catin).
"Penghulu harus hadir paling depan memberi penguatan dan petunjuk pada mereka yang akan menikah dan membangun keluarga,” tegasnya.
Sementara itu, penyuluh, imbuhnya, mesti mengambil peran strategis dalam penanganan stunting melalui program bimbingan perkawinan (Bimwin).
"Tentu, Bimwin bisa digunakan. Namun, untuk keluarga rentan terkena stunting bisa menjadi perhatian khusus bagi penyuluh. Mereka bisa diberi penyuluhan khusus, seperti mendatangi rumah mereka" ulasnya.
Selain itu, Dirjen juga meminta mahasiswa untuk mempersiapkan blue print masa depan dan langkah-langkah untuk mencapainya.
Hadir dalam kuliah umum yaitu Kakanwil Kemenag Sulawesi Barat, Kabid Bimas Islam Kementerian Agama Sulawesi Barat, dan Ketua STAIN Majene.
Ba/Wcp



