Semarang, Bimas Islam --- Alhamdulillah, meskipun agenda upacara bendera menyambut Hari Sumpah Pemuda yang sekiranya akan dilaksanakan oleh para petugas yang terdiri dari eks napi teroris di Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah dibatalkan akibat paskibra nya terpapar Covid-19, namun momentum tetap berlangsung pagi ini dengan cara lainnya yang lebih nyaman, yaitu penyerahan bendera merah putih, ucap Syarif Hidayatullah, selaku Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Semarang yang juga sebagai pembina eks napiter tersebut.
Syarif bersyukur bahwa salah satu eks napiter yaitu Sri Puji Mulyo Siswanto, yang juga selaku wakil sekretaris Yayasan Persadani menyerahkan bendera hasil jahitannya sendiri kepada Pak Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah sesaat sebelum penyelenggaraan seremoni nasional Sumpah Pemuda secara virtual di Gedung Gradika Jl. Pahlawan Semarang pagi ini (28/10).
"Pengibaran bendera yang sekiranya akan dilakukan oleh tiga orang petugas, yaitu Machmudi Hariono alias Yusuf, Surono dan Paimin menjadi batal dikarena salah satu dari mereka terpapar corona setelah dilaksanakan rangkaian pelatihan," jelas Sri Puji, yang akhirnya berinisiatif untuk menjahit bendera.
Tim petugas yang telah disiapkan pun akhirnya juga melakukan isolasi mandiri, meskipun yang lainnya non reaktif, demi memutus mata rantai penyebaran lebih luas, beber Syarif.
Dalam kesempatan tersebut, Pak Ganjar menanyakan terkait keterlibatan Puji dalam aksi terorisme, perekrutan dan harapannya ke depan.
"Saya telah 2 kali masuk penjara akibat kasus terorisme, yaitu tahun 2005 karena terkait jaringan Dr. Azahari - Noordin M. Top dan tahun 2010 karena ikut terlibat menyembunyikan DPO (Abu Tholut)", terang Puji.
"Saat tahun-tahun tersebut perekrutan relatif mudah karena adanya beberapa konflik seperti Ambon dan Poso, sehingga bisa menjadi alasan diadakan pelatihan dan doktrinisasi ayat-ayat perang", imbuhnya.
Harapan ke depan, kami ingin ikhwan-ikhwan bertobat dan bergabung dalam Yayasan Persadani, karena di sini kami diberikan banyak informasi yang bukan hanya dari satu sumber dan rujukan, tapi dari sumber yang bervariasi. Juga kami diberi beberapa solusi dalam memperbaiki kehidupan, baik dari sisi ekonomi maupun pemahaman keagamaan.
Pada segmen lainnya, Puji juga menjelaskan bahwa Prof. Syarif (sebutan akrab) sebagai inisiator pendiri yayasan yang mendampingi kami memang sering memberikan model variasi pemahaman keagamaan yang moderat, sehingga pelan-pelan perilaku kami berubah dan bisa kembali mudah diterima masyarakat pada umumnya.
(Syarif Hidayatulloh/Penyuluh Kemenag Kota Semarang)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



