Jambi, Bimas Islam -- Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Alquran dan Alhadits, Rijal Ahmad Rangkuty mengatakan, transformasi digital di panggung Musabaqah Al-Qur'an bukan hanya sebuah perkembangan praktis, tetapi juga mencerminkan tekad Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) untuk menjaga relevansi dan keunggulan kompetisi ini di era teknologi yang berkembang pesat.
Terdapat tiga fungsi utama dari transformasi digital yang mendukung keberhasilan STQH tahun 2023. "Pertama, proses pendaftaran peserta menjadi lebih efisien dan akurat. Dengan memanfaatkan aplikasi e-MTQ, peserta dapat mendaftar secara online tanpa harus melakukan perjalanan fisik atau membawa berkas-berkas berat. Ini mengurangi beban administratif dan waktu yang diperlukan dalam proses pendaftaran," ujar Rijal dalam wawancara dengan Tim Bimas Islam pada Jumat (3/11/2023), di Jambi.
Selain itu, sistem digital memungkinkan verifikasi otomatis terhadap persyaratan usia peserta, sehingga memastikan bahwa hanya peserta yang memenuhi syarat yang dapat berpartisipasi.
"Kedua, terdapat integrasi data peserta dengan sistem kependudukan nasional. Transformasi digital memungkinkan integrasi data peserta dengan sistem kependudukan nasional melalui Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen DUKCAPIL) di Kementerian Dalam Negeri. Hal ini memastikan bahwa informasi peserta adalah valid dan sah, serta mencegah adanya pelanggaran terkait persyaratan usia," tambahnya.
Selanjutnya, ada aplikasi e-MAQRA yang digunakan untuk pengacakan dan penampilan soal maqra (daftar ayat yang akan dibaca oleh peserta) secara digital. Penggunaan aplikasi e-MAQRA memungkinkan pengacakan soal maqra yang adil dan transparan. Selain itu, dengan menyajikan soal maqra melalui platform digital, dewan hakim dapat melakukan penilaian dengan lebih efisien dan akurat.
"Aplikasi ini juga membantu menghindari tuduhan kebocoran soal maqra karena proses pengacakan dilakukan oleh komputer. Penonton juga dapat dengan lebih khusyuk mengikuti penampilan setiap peserta karena ayat-ayat ditampilkan melalui layar monitor yang memadai," tambahnya.
Terakhir, kategori lomba di STQH disiarkan secara langsung melalui media sosial, khususnya Youtube Channel yang dikelola oleh Subdirektorat. Hal ini memungkinkan masyarakat di seluruh penjuru negeri untuk menyaksikan dan memantau setiap tahapan kompetisi secara real-time.
"Dengan demikian, semangat persaingan dan cinta terhadap Al-Qur’an dapat tersebar lebih luas di seluruh Indonesia. Penyiaran langsung juga memberi kesempatan pada penonton untuk memberi dukungan dan doa langsung kepada peserta yang sedang berkompetisi, menciptakan atmosfer kompetisi yang penuh semangat, dan memotivasi peserta untuk tampil sebaik mungkin," pungkas Rijal.
Dengan langkah-langkah ini, STQH membuka era baru dengan pemanfaatan teknologi yang mampu menguatkan kompetisi Al-Qur'an.
Msk/Mr



