Cirebon, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng akademisi, seniman, dan budayawan Cirebon untuk menggali pesan-pesan moderasi beragama dari naskah-naskah Sunan Gunung Djati atau Syekh Syarif Hidayatullah, salah satu tokoh Walisongo yang sangat populer di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Penggalian naskah tersebut bertujuan untuk memperbanyak informasi sekaligus metode dakwah yang moderat di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Kasubdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam Kemenag, Wida Sukmawati menyampaikan, penggalian pesan-pesan moderat dan toleran dari naskah-naskah Sunan Gunung Djati dapat memperkaya literasi serta memperkuat moderasi beragama.
"Kegiatan penggalian naskah-naskah Sunan Gunung Djati dapat memperkaya informasi, mengungkapkan pesan-pesan moderasi beragama, hingga praktik demokrasi. Tidak hanya itu, pesan dari naskah Sunan Gunung Djati tersebut bisa menjadi penguat pesan perdamaian," ujarnya pada kegiatan FGD Penggalian Naskah Pagelaran Seni Budaya Islam Sunan Gunung Djati di Cirebon, Sabtu (1/6/2024).
Menurut Wida, pesan-pesan Sunan Gunung Djati tak hanya dapat dijadikan rujukan terkait moderasi beragama, tetapi juga bisa dijadikan inspirasi dalam seni budaya.
Lebih lanjut Wida menjelaskan, naskah Sunan Gunung Djati yang tengah digali tersebut nantinya akan dijadikan bahan pentas seni Ketoprak. Ketoprak merupakan sebuah seni pentas sandiwara yang diselingi lagu-lagu Jawa, dan diiringi gamelan. Jenis kesenian ini sudah ada sejak zaman Raja Mataram Amangkurat I.
"Selanjutnya, harapan kita, setelah penggalian naskah, informasi terkait Sunan Gunung Djati dapat kita pentaskan dalam pagelaran Ketoprak yang disutradarai Agus Marsudi," ujarnya.
Wida berharap, selain mengampanyekan moderasi beragama, hadirnya pentas sandiwara Ketoprak tersebut dapat mempersatukan masyarakat Indonesia yang terpecah pasca Pemilu beberapa waktu lalu.
"Penggalian Naskah Sunan Gunung Djati yang kemudian akan dijadikan bahan pentas seni Ketoprak diharapkan dapat mengobati dan menjembatani masyarakat setelah pesta demokrasi beberapa waktu lalu. Seni ini bisa mendekatkan kita, sehingga kita mengembangkan toleransi dan bisa menyampaikan pesan-pesan yang baik pada penonton nanti," tuturnya.
Ia juga berharap, seni Ketoprak yang tengah disusun Sutradara Agus Marsudi itu dapat menjadi salah satu langkah untuk melestarikan budaya dan pengenalan moderasi beragama pada generasi muda. "Pentas seni ini juga akan disiarkan secara online, seperti di YouTube dan media sosial lainnya, sehingga bisa dinikmati generasi muda," harap Wida.
Sementara itu, Sutradara Agus Marsudi menjelaskan, penggalian naskah tersebut bertujuan untuk mendalami pesan-pesan moderasi beragama dan toleransi dari sosok Sunan Gunung Djati. Pada akhirnya, pesan-pesan moderasi beragama dapat tersampaikan kepada masyarakat dengan berbagai cara, salah satunya melalui seni pentas Ketoprak atau sandiwara.
"Melalui seni, cerita-cerita tentang toleransi dan moderasi beragama bisa disebarkan kepada masyarakat. Melalui seni budaya, kita tunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah punya sikap toleran, bahkan dari dulu, semenjak Sunan Gunung Djati," pungkasnya.
Ba/Mr



