Kepala KUA Srandakan, Khambali mengatakan, sarasehan ini dihelat untuk memperkuat persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama, terutama di tengah arus informasi yang tak terlepas dari hoaks dan disinformasi.
"Sistem informasi saat ini terbuka lebar dan tidak jarang mengandung hoaks. Oleh karena itu, gerakan moderasi beragama diperlukan untuk meningkatkan persaudaraan di antara kita," ungkap Khambali.
Gerakan moderasi, menurut Khambali, perlu diwariskan dari generasi ke generasi. "Moderasi beragama akan melahirkan kondusivitas masyarakat. Dengan sarasehan kebangsaan ini, kondusivitas masyarakat kita wariskan pada generasi muda," jelas Khambali.
Sarasehan Kebangsaan ini merupakan hasil kolaborasi antarstakeholder, termasuk Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia Cabang Bantul dan Dusun Bendo, Srandakan, Bantul. Fokusnya adalah mengatasi isu lingkungan dan penguatan moderasi, dengan penekanan pada keseimbangan kehidupan masyarakat.
Khambali menegaskan, peran KUA tidak hanya sebatas mengurus pernikahan, melainkan juga terlibat dalam menciptakan keseimbangan alam dan lingkungan. "KUA harus terlibat menciptakan keseimbangan alam dan lingkungan," tambah Khambali.
Sarasehan ini melibatkan pemateri dari perwakilan Kanwil Kemenag DIY Nur Ahmad Ghozali, Pengasuh Pondok Pesantren Assalafiyah Mlangi Sleman Irwan Masduqi, Ketua Umum Alumni Sejarah Universitas Gajah Mada Wahyudi Djaja, dan pengurus PCTA Indonesia Pusat Haryo Sumantri.
Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Bupati Bantul, Kepala Kantor Kementerian Kabupaten Bantul, Kepala Kesbangpol, Ketua FKUB, Camat Srandakan, Danramil, Kapolsek, Kepala Puskesmas, Lurah, Kepala Sekolah, dan perwakilan umat beragama Islam, Katolik, Kristen, serta penganut aliran kepercayaan dengan total peserta mencapai 200 orang.
Ba/Mr



