Harmoni 500 angklung yang dimainkan seluruh penonton tersebut dipimpin oleh Djoko Nugroho, sembari memberi motivasi dan edukasi terkait makna filosofis yang terkandung dalam permainan alat musik angklung, terutama tentang ketaatan dan kekompakan.
Dengan semangat, Djoko Nugroho mengajarkan cara memainkan angklung yang sebelumnya dibagikan kepada seluruh penonton, disambut sorak-sorai penonton dengan menggoyang-goyangkan alat musik berbahan dasar bambu itu sambil sesekali tertawa.
Penonton secara bergantian menggoyangkan angklung atas arahan Djoko Nugroho. Tiap nada ditandai dengan gerakan tangan. Djoko Nugroho mengangkat tangan, serentak seluruh penonton menggoyangkan angklung.
Setelah proses pembiasaan, angklung akhirnya bersama-sama dimainkan. Lagu-lagu pop seperti Can't Help Falling in Love with You dari Elvis Presley hingga Tanah Airku menggema di Hall B Jakarta Convention Center sore itu.
Namun tampaknya bukan hanya harmoni 500 angklung yang membuat suasana hari jadi Kemenag itu begitu meriah. Ada sejumlah pertunjukan seni lain yang disuguhkan, yaitu Rampak Bedug dari MAN 1 Pandeglang, dilanjutkan dengan penampilan Palang Pintu dari Sanggar Biru Langit yang diiringi para Aparatur Sipil Negara (ASN) Ditjen Bimas Islam mengenakan pakaian adat.
Pertunjukan seni mencapai puncaknya dengan penampilan Na'am Acapella, diikuti oleh pertunjukan Paduan Suara 34 Provinsi dari ASN Ditjen Bimas Islam.
Direktur Jenderal Bimas Islam, Kamaruddin Amin, memberi pujian terhadap pertunjukan tersebut, menyebutnya sebagai suguhan seni yang tidak hanya menghibur tetapi juga menjadi sarana edukasi dan dakwah.
"Ternyata banyak sekali. Tidak hanya menghibur, tapi juga mengedukasi. Terkait seni budaya Islam di Indonesia, banyak sekali potensi yang bisa kita jadikan media dakwah." Pujian ini mencerminkan apresiasi terhadap nilai-nilai yang disampaikan melalui seni sebagai sarana dakwah.
Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, menjelaskan bahwa Art Performances diadakan sebagai upaya pelestarian seni budaya tradisional. Zayadi menekankan pentingnya bersama-sama merawat, memelihara, dan melestarikan seni budaya Islam yang bersifat tradisional, sambil mencoba beradaptasi dengan dinamika seni dan budaya yang terus berkembang.
"Wajib hukumnya untuk bersama sama merawat, memelihara, dan melestarikan seni budaya Islam yang sifatnya tradisional. Tetapi di saat yang sama, ada juga sajian musik acapella dan segala macam. Ini tantangan kita ke depan. Di samping merawat, kita juga harus pandai melakukan adaptasi menyesuaikan dengan dinamika seni dan budaya," tutur Zayadi.
Melalui pertunjukan ini, Bimas Islam diharapkan dapat tetap mengusung nilai-nilai Islam yang inspiratif bagi perkembangan seni budaya. Puncak acara ditandai dengan pembagian doorprize, menawarkan hadiah menarik seperti voucher belanja, smart watch, smart tablet, dan sepeda kepada pengunjung terpilih sebagai penutup yang meriah dari Devotion Expo tersebut.
Fn/Mr
*Fotografer: Shandry F Nanere
Baca Selanjutnya
Lihat semuaSekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Tarik 2.568 Pengunjung, Milfest Kemenag 2026 Catat Perputaran Ekonomi Hingga Rp234 Juta
Bogor, Bimas Islam — Muharam Islamic Literacy Festival (Milfest) Kementerian Agama 2026 mencatat capaian positif selama empat hari penyelenggaraan di Unit…
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Menag: Bukan Umat yang Memberdayakan Masjid, tetapi Masjid yang Memberdayakan Umat
Surabaya, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masjid harus menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah.…



